Timeline Sejarah Hizbut Tahrir: 70 Tahun Perjuangan Tegakkan Khilafah
“Dan sesungguhnya telah Kami tuliskan di dalam Zabur, setelah (Kami tuliskan dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba Kami yang saleh.” (QS. Al-Anbiya: 105)
Ayat ini bukan sekadar janji yang tergantung di langit. Ia adalah benang merah yang menghubungkan setiap detik perjuangan Hizbut Tahrir — dari sekelompok kecil lelaki di Yerusalem yang berani bermimpi tentang Khilafah di tengah keputusasaan umat, hingga jaringan dakwah yang kini membentang di lebih dari 50 negara di enam benua.
Artikel ini bukan daftar tanggal dan peristiwa kering. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah ide — bahwa Islam bukan hanya ritual ibadah, melainkan sistem kehidupan yang lengkap — bertahan selama lebih dari 70 tahun melalui kudeta, pembantaian, pelarangan, fitnah, dan tekanan yang tak terhitung jumlahnya. Ini adalah kisah tentang orang-orang yang memilih untuk tidak diam ketika umat Islam kehilangan pemimpinnya.
Mari kita telusuri perjalanan ini, era demi era, seperti membaca bab-bab dalam sebuah buku yang belum selesai — karena bab terbaiknya masih akan datang.
1. Kegelapan Sebelum Fajar: Dunia Islam Pasca-Runtuhnya Khilafah (1924-1952)
Untuk memahami mengapa Hizbut Tahrir didirikan, kita harus terlebih dahulu merasakan kekosongan yang ditinggalkan oleh runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Bayangkan sebuah umat yang selama lebih dari 13 abad memiliki pemimpin tunggal — seorang Khalifah yang menyatukan Maroko hingga Indonesia di bawah satu panji — tiba-tiba terbangun di pagi hari dan mendapati dirinya yatim piatu. Tidak ada pemimpin. Tidak ada payung. Tidak ada suara yang berbicara atas nama seluruh umat Islam.
28 Rajab 1342 H / 3 Maret 1924 M — tanggal yang mungkin paling menyakitkan dalam sejarah Islam modern. Mustafa Kemal Atatürk, dengan dukungan kekuatan kolonial Barat, secara resmi membubarkan Khilafah Utsmaniyah. Lembaga yang telah berdiri sejak abad ke-13 itu dihapuskan dalam semalam. Yang tersisa adalah puing-puing: dunia Islam yang terpecah-pecah menjadi negara-negara boneka di bawah mandat Inggris dan Prancis, masing-masing dengan raja dan presiden yang lebih setia kepada tuan kolonial mereka daripada kepada umat Islam.
Rasulullah ﷺ telah memperingatkan hal ini:
الْخِلَافَةُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ
“Khilafah di tengah umatku berlangsung tiga puluh tahun, kemudian setelahnya adalah kerajaan (mulkan).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi)
Dan kini, umat Islam hidup di bawah “mulkan” — kekuasaan-kekuasaan kecil yang saling bersaing, masing-masing mengklaim legitimasi sementara umat tercabik-cabik.
Upaya-Upaya Awal yang Gagal
Tidak ada yang menerima kehancuran ini dengan pasif. Di seluruh dunia Islam, orang-orang bangkit mencoba memulihkan apa yang telah hilang.
Di India, Gerakan Khilafah (1919-1924) yang dipimpin oleh Ali Brothers (Muhammad Ali dan Shaukat Ali) mencoba menekan pemerintah kolonial Inggris agar mempertahankan Khilafah. Gerakan ini menarik ratusan ribu Muslim India, tetapi akhirnya gagal karena tekanan Inggris dan perubahan politik di Turki sendiri.
Di Mesir, Al-Ikhwan Al-Muslimun didirikan oleh Hasan Al-Banna pada tahun 1928. Berbeda dengan Gerakan Khilafah yang fokus pada pemulihan institusi, Ikhwan memilih pendekatan bertahap: mendidik individu, membangun masyarakat, baru kemudian negara. Pendekatan ini menghasilkan jaringan dakwah yang luas, tetapi — sebagaimana akan terbukti kemudian — tidak pernah benar-benar menyentuh inti masalah: tidak adanya negara Khilafah yang menerapkan Islam secara kafah.
Di Palestina sendiri, ada Hizb ut-Tahrir al-Islami, sebuah gerakan kecil yang mencoba mengisi kekosongan politik, tetapi tidak bertahan lama karena tekanan mandat Inggris dan perpecahan internal.
Syaikh Taqiyyuddin: Sang Arsitek yang Mempersiapkan Segalanya
Di tengah kegelapan inilah Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani mulai bergerak. Beliau bukan orang biasa. Lahir di 1909 di desa Al-Jura di dekat Haifa, Palestina, beliau tumbuh dalam keluarga ulama yang mendalam ilmunya. Beliau menghafal Al-Qur’an di usia muda, belajar fiqih, ushuluddin, dan bahasa Arab dari ayahandanya, Syaikh Qadhi Izzuddin An-Nabhani — seorang hakim syar’i yang terkenal.
Tetapi Syaikh Taqiyyuddin tidak berhenti di ilmu agama tradisional. Beliau juga mendalami hukum modern di Universitas Al-Azhar Kairo dan kemudian di Universitas Saint-Joseph di Beirut, di mana beliau meraih gelar dalam hukum sipil. Kombinasi langka ini — mendalam dalam syariat sekaligus memahami sistem modern — menjadikan beliau satu-satunya tokoh di masanya yang mampu merumuskan alternatif Islam yang komprehensif terhadap sistem-sistem Barat yang sedang mendominasi dunia.
Pada akhir 1940-an, setelah menyaksikan Nakba — tragedi pendirian Israel di tanah Palestina pada 1948 yang mengusir ratusan ribu Palestinians dari rumah mereka — Syaikh Taqiyyuddin sampai pada kesimpulan yang akan mengubah sejarah: umat Islam tidak akan pernah membebaskan Palestina, tidak akan pernah berdiri tegak, tidak akan pernah kembali berjaya, selama mereka tidak memiliki negara yang menyatukan mereka di bawah hukum Allah.
Beliau mulai mengumpulkan murid-murid di Yerusalem. Diskusi-diskusi intensif digelar di masjid-masjid, di rumah-rumah, di sudut-sudut kota. Topiknya selalu satu: kewajiban mendirikan Khilafah. Bukan sebagai nostalgia romantik terhadap masa lalu, tetapi sebagai kewajiban syar’i yang tidak bisa ditawar.
Pada 1951, keputusan diambil: saatnya mendirikan partai politik. Bukan partai biasa yang ikut dalam pemilu dan bermain dalam sistem demokrasi — tetapi partai yang tujuannya satu: menghancurkan sistem-sistem kufur yang menggantikan Khilafah dan membangun kembali Daulah Khilafah ‘Ala Minhaj An-Nubuwwah.
Dan pada 28 Rajab 1372 H / 1953 M, Hizbut Tahrir resmi dinyatakan berdirinya di Yerusalem.
2. Kelahiran di Al-Quds: Tahun-Tahun Pertama yang Penuh Keberanian (1953-1960)
Bayangkan suasana Yerusalem di tahun 1953. Kota suci itu masih terluka oleh Nakba lima tahun sebelumnya. Palestina terpecah: Tepi Barat di bawah Yordania, Gaza di bawah Mesir, dan sebagian besar tanah telah dirampas oleh Israel. Di tengah suasana putus asa inilah sekelompok kecil orang — mungkin tidak lebih dari beberapa puluh — berani mengumumkan partai yang tujuannya terdengar mustahil: mengembalikan Khilafah.
Syaikh Taqiyyuddin tidak main-main. Risalah pertama Hizbut Tahrir segera diedarkan ke masjid-masjid, pasar-pasar, dan universitas-universitas. Risalah itu bukan sekadar selebaran propaganda. Ia berisi argumen-argumen yang tajam, dalil-dalil yang kokoh, dan analisis yang menusuk: mengapa umat Islam lemah, mengapa sistem demokrasi tidak kompatibel dengan Islam, dan mengapa Khilafah adalah satu-satunya solusi.
Ekspansi yang Mengejutkan
Yang menakjubkan dari tahun-tahun pertama ini adalah kecepatan ekspansi dakwah. Dalam waktu kurang dari dua tahun, Hizbut Tahrir telah menyebar ke:
- Yordania — cabang pertama di luar Palestina, tumbuh pesat di Amman dan kota-kota lainnya
- Suriah — dakwah masuk ke Damaskus dan Aleppo, menarik kalangan intelektual dan militer
- Libanon — Beirut dan Tripoli menjadi basis baru
- Kuwait — melalui pelajar-pelajar Palestina dan Arab yang belajar di Yordania
Ekspansi ini bukan kebetulan. Ia terjadi karena ada sesuatu yang hilang dari kehidupan umat Islam — sesuatu yang hanya Hizbut Tahrir yang secara eksplisit menyerukannya: Khilafah.
Publikasi yang Mengubah Cara Berpikir
Pada 1955, Hizbut Tahrir mulai menerbitkan kitab-kitab yang akan menjadi fondasi intelektual gerakan ini selama puluhan tahun. Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah Jilid 1 — karya monumental Syaikh Taqiyyuddin yang membahas cara berpikir Islam — mulai diedarkan. Disusul oleh Nizhamul Islam yang merumuskan sistem kehidupan Islam secara komprehensif: akidah, pemerintahan, ekonomi, pergaulan, pendidikan, dan hukum.
Kitab-kitab ini bukan karya akademis yang berdebu di perpustakaan. Mereka adalah senjata intelektual yang dirancang untuk membentuk syakhshiyyah islamiyyah — kepribadian Islam — pada setiap anggota Hizbut Tahrir. Dan mereka berhasil.
Interaksi dengan Penguasa dan Tekanan Pertama
Hizbut Tahrir tidak berdakwah di menara gading. Pada 1956, partai ini mendekati Raja Hussein dari Yordania secara langsung, mengajaknya untuk menerapkan Islam dan bekerja menuju Khilafah. Respons awalnya tampak positif — tetapi tidak berlangsung lama.
Seiring Hizbut Tahrir semakin vokal dan semakin menarik pengikut, penguasa mulai merasa terancam. Pada 1957, gelombang tekanan dimulai:
- Yordania mulai membatasi aktivitas Hizbut Tahrir
- Suriah melarang aktivitas publik
- Mesir di bawah Gamal Abdel Nasser — yang melihat Hizbut Tahrir sebagai saingan ideologis yang berbahaya — menerapkan tekanan yang paling keras
Puncaknya terjadi pada 1958 dalam peristiwa yang dikenal sebagai Peristiwa Homs. Di kota Homs, Suriah, anggota Hizbut Tahrir mencoba mempengaruhi kalangan militer untuk mendukung ide Khilafah. Intelijen Suriah menangkap gerakan ini. Beberapa anggota ditangkap. Beberapa dieksekusi. Syaikh Abdul Qadim Zallum — yang kelak akan menjadi Amir kedua Hizbut Tahrir — nyaris tertangkap dan harus bersembunyi.
Peristiwa ini menjadi pelajaran pertama yang pahit: bekerja dengan militer adalah pedang bermata dua. Dan pelajaran ini akan diulang — dengan konsekuensi yang jauh lebih tragis — di Irak dan Libya pada dekade berikutnya.
Pada 1959, Syaikh Taqiyyuddin sendiri terpaksa pindah dari Yerusalem ke Beirut untuk menghindari penangkapan. Struktur Hizbut Tahrir diperkuat dalam mode bawah tanah. Tetapi dakwah tidak berhenti. Ia hanya berubah bentuk.
3. Ekspansi dan Ujian Berat: Irak, Libya, dan Pelajaran yang Mahal (1961-1970)
Dekade 1960-an adalah bab paling dramatis dalam sejarah Hizbut Tahrir. Ini adalah era di mana partai ini belajar — dengan cara yang paling menyakitkan — bahwa mengandalkan penguasa adalah jalan buntu.
Tragedi Irak: Ketika Harapan Berubah menjadi Pembantaian
Pada 1961, dakwah Hizbut Tahrir masuk ke Irak melalui pelajar-pelajar dari Suriah. Basis didirikan di Baghdad dan Basrah. Dakwah berkembang pesat, terutama di kalangan militer — para perwira muda yang kecewa dengan korupsi dan ketidakstabilan politik Irak.
Kemudian datang 8 Februari 1963: kudeta Partai Ba’ath yang menggulingkan Perdana Menteri Abdul Karim Qasim. Anggota Hizbut Tahrir terlibat dalam kudeta ini — bukan karena mereka percaya pada ideologi Ba’ath, tetapi karena mereka berharap bahwa Irak di bawah pemerintahan baru akan menerapkan Islam.
Harapan itu hancur dalam waktu yang sangat singkat.
Pada April 1963 — hanya dua bulan setelah kudeta — Partai Ba’ath yang dipimpin oleh Ahmad Hasan al-Bakr (dan dengan Saddam Hussein sebagai wakilnya) mulai membersihkan Hizbut Tahrir dari struktur kekuasaan. Ratusan anggota ditangkap. Puluhan dieksekusi, termasuk perwira-perwira militer yang telah bergabung dengan partai. Ini bukan sekadar penangkapan — ini adalah pembantaian sistematis terhadap orang-orang yang percaya bahwa Islam bisa diterapkan melalui kerja sama dengan penguasa.
Pelajarannya jelas dan menyakitkan: penguasa tidak akan pernah mau berbagi kekuasaan dengan siapa pun yang menyerukan hukum Allah.
Evaluasi Total dan Kembali ke Manhaj
Syaikh Taqiyyuddin tidak membuang waktu. Beliau memimpin evaluasi menyeluruh dan sampai pada kesimpulan yang akan menjadi pegangan Hizbut Tahrir hingga hari ini: tidak boleh lagi keterlibatan dalam kudeta atau kerja sama dengan penguasa untuk meraih kekuasaan. Hizbut Tahrir harus kembali ke manhaj aslinya — dakwah pemikiran dan politik, membangun kesadaran umat dari bawah, bukan mencari jalan pintas melalui istana.
Pada tahun yang sama, Kitab Al-Amwal Fi Daulah Al-Khilafah — karya Syaikh Abdul Qadim Zallum tentang sistem ekonomi Islam — diterbitkan. Publikasi ini menandai komitmen Hizbut Tahrir untuk tetap pada jalur intelektual, bahkan di tengah tekanan yang luar biasa.
Tragedi Libya: Pelajaran yang Sama, Wajah yang Berbeda
Jika Irak adalah pelajaran pertama, Libya adalah pengulangan yang lebih pahit.
Pada 1966, dakwah Hizbut Tahrir masuk ke Libya — saat itu di bawah Kerajaan Raja Idris yang sekuler. Dakwah berkembang di Benghazi dan Tripoli, menarik banyak anggota dari kalangan militer. Situasi tampak menjanjikan.
Kemudian pada 1 September 1969, Muammar Gaddafi — seorang perwira muda — menggulingkan Raja Idris dalam sebuah kudeta. Seperti di Irak, anggota Hizbut Tahrir terlibat dan mendukung kudeta ini, berharap bahwa Libya baru akan menerapkan Islam.
Sekali lagi, harapan itu dikhianati.
Gaddafi ternyata jauh lebih sekuler dan lebih brutal daripada Raja yang ia gulingkan. Pada 1970, anggota Hizbut Tahrir yang telah membantu kudeta mulai dikesampingkan. Beberapa dieksekusi. Banyak yang dipenjara. Gaddafi membangun rezim yang tidak hanya menolak Islam politik, tetapi juga menciptakan kultus kepribadian yang absurd — “Buku Hijau”-nya sendiri dijadikan ideologi negara.
Dua tragedi — Irak dan Libya — dalam satu dekade. Pelajarannya tidak bisa lebih jelas: tidak boleh bergantung pada penguasa. Tidak boleh terlibat dalam kudeta. Tidak boleh mencari jalan pintas. Satu-satunya jalan adalah dakwah pemikiran yang konsisten, membangun kesadaran umat dari akar rumput.
Perang Enam Hari: Ketika Analisis Hizbut Tahrir Terbukti Benar
Di tengah dua tragedi ini, terjadi peristiwa yang justru memperkuat kredibilitas Hizbut Tahrir di mata umat Islam.
Pada Juni 1967, Israel melancarkan serangan kilat yang menghancurkan militer Mesir, Suriah, dan Yordania dalam waktu hanya enam hari. Sinai, Gaza, Tepi Barat, Yerusalem, dan Dataran Tinggi Golan — semuanya jatuh ke tangan Israel. Malu yang luar biasa menimpa dunia Arab.
Hizbut Tahrir merilis pernyataan yang tegas dan menusuk: “Kekalahan ini bukan karena kelemahan militer. Ia adalah akibat dari meninggalkan Islam.” Analisis ini — yang pada saat itu terasa menyakitkan dan tidak populer — terbukti benar. Rezim-rezim Arab yang mengklaim nasionalisme dan sosialisme ternyata tidak mampu melindungi satu jengkal tanah Muslim.
Dakwah Hizbut Tahrir semakin diterima. Bukan karena janjinya yang manis, tetapi karena analisisnya yang jujur.
Ekspansi yang Terus Berjalan
Meskipun diterpa badai di Irak dan Libya, dakwah Hizbut Tahrir terus meluas:
- 1965: Masuk ke Sudan, diterima baik di Khartoum, basis kuat di universitas
- 1968: Ekspansi ke Teluk — Kuwait semakin kuat, Bahrain dan Qatar dimulai, UAE terbatas
Pola ini akan terus berulang: di mana pun Hizbut Tahrir masuk, ia menarik orang-orang yang kecewa dengan rezim sekuler dan nasionalis, orang-orang yang merindukan identitas Islam yang sesungguhnya.
4. Kedewasaan Setelah Pelajaran Pahit: Fokus pada Dakwah Pemikiran (1971-1980)
Setelah dua dekade pertama yang penuh dengan cobaan — pendirian, ekspansi, tragedi Irak, tragedi Libya — Hizbut Tahrir memasuki era baru. Era kedewasaan. Era di mana partai ini belajar dari kesalahan dan memperkuat fondasinya.
Fokus Baru yang Jelas
Pada 1971, arah Hizbut Tahrir ditetapkan dengan tegas setelah pelajaran dari Irak dan Libya:
- Pembinaan internal yang kuat — setiap anggota harus memahami tsaqofah (pemahaman) Islam secara mendalam
- Dakwah pemikiran (tsaqif) — mengubah cara berpikir umat, bukan sekadar mengubah penguasa
- Interaksi politik tanpa kudeta — mengkritik penguasa, mempengaruhi opini publik, tetapi tidak pernah mencoba merebut kekuasaan melalui kekuatan militer
Ini bukan perubahan manhaj. Ini adalah kembali ke manhaj asli — manhaj yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyyuddin sejak awal, tetapi sempat tergeser oleh godaan jalan pintas di Irak dan Libya.
Ekspansi ke Asia Tenggara: Benih yang Ditanam Jauh dari Timur Tengah
Pada 1972, terjadi perkembangan yang akan memiliki dampak besar bagi masa depan Hizbut Tahrir: dakwah masuk ke Asia Tenggara.
Melalui pelajar-pelajar Malaysia dan Indonesia yang belajar di Timur Tengah, ide-ide Hizbut Tahrir mulai menyebar ke dunia Melayu. Responsnya positif — luar biasa positif. Masyarakat Asia Tenggara, yang telah lama mencari identitas Islam yang autentik di tengah arus nasionalisme sekuler dan pengaruh Barat, menemukan dalam Hizbut Tahrir sebuah gerakan yang berbicara tentang Islam secara utuh: bukan hanya shalat dan puasa, tetapi juga sistem pemerintahan, ekonomi, dan hukum.
Pada 1974, struktur Hizbut Tahrir mulai terbentuk secara resmi di Malaysia dan Indonesia. Di saat yang sama, dakwah juga dimulai di Pakistan — Karachi dan Lahore menjadi basis baru di Asia Selatan.
Perang Yom Kippur: Kembali Membuktikan Analisis
Pada Oktober 1973, Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak terhadap Israel dalam apa yang dikenal sebagai Perang Yom Kippur. Awalnya, pasukan Arab berhasil menyeberangi Terusan Suez dan membuat Israel terkejut. Tetapi perang ini berakhir tanpa hasil yang signifikan — gencatan senjata, negosiasi, dan status quo yang sama.
Hizbut Tahrir menganalisis perang ini dengan cara yang sama seperti Perang Enam Hari: “Perang ini bukan untuk Islam. Ia adalah perang nasionalisme — dan nasionalisme tidak akan pernah membebaskan Palestina.” Sekali lagi, analisis ini terbukti benar. Perang Yom Kippur tidak menghasilkan pembebasan satu jengkal tanah pun. Ia hanya menghasilkan lebih banyak kematian, lebih banyak kehancuran, dan lebih banyak ketergantungan pada Barat.
Perang Saudara Lebanon: Tetap Netral di Tengah Badai
Pada 1975, Lebanon tenggelam dalam perang saudara yang akan berlangsung selama 15 tahun hingga 1990. Negara yang pernah disebut “Paris-nya Timur Tengah” ini hancur oleh konflik sektarian antara Muslim Sunni, Syiah, Maronit Kristen, Druze, dan berbagai milisi yang didukung oleh kekuatan asing.
Hizbut Tahrir mengambil posisi yang konsisten: netral. Partai ini tidak memihak faksi manapun. Ia tetap fokus pada dakwah dan perlindungan anggotanya, dengan basis di Beirut Barat yang mayoritas Muslim. Posisi ini — yang pada saat itu dikritik oleh beberapa pihak sebagai “tidak peduli” — sebenarnya adalah manifestasi dari prinsip Hizbut Tahrir: bahwa solusi untuk Lebanon, dan untuk seluruh dunia Islam, bukanlah kemenangan satu faksi atas faksi lainnya, tetapi tegaknya Khilafah yang menyatukan seluruh umat.
Camp David: Pengkhianatan yang Terbuka
Pada September 1978, Anwar Sadat — Presiden Mesir — menandatangani Perjanjian Camp David dengan Perdana Menteri Israel Menachem Begin, dengan Jimmy Carter sebagai penengah. Perjanjian ini secara efektif mengakui keberadaan Israel dan mengesampingkan hak-hak Palestinians.
Hizbut Tahrir bereaksi dengan keras: “Ini adalah pengkhianatan terhadap Palestina dan terhadap Islam.” Demonstrasi-demonstrasi digelar di berbagai negara Arab. Sadat dikritik tajam. Dan sekali lagi, sejarah membuktikan Hizbut Tahrir benar: Camp David tidak menghasilkan perdamaian yang sesungguhnya. Ia hanya menghasilkan “perdamaian dingin” antara dua pemerintah, sementara rakyat Palestina terus menderita.
Revolusi Iran: Peringatan yang Diabaikan
Pada Februari 1979, Syah Iran — yang telah berkuasa selama 25 tahun dengan dukungan penuh Amerika Serikat — digulingkan dalam revolusi yang dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini. Dunia Islam bergembira: sebuah rezim sekuler dan pro-Barat telah jatuh.
Tetapi Hizbut Tahrir tidak ikut bergembira. Partai ini mengeluarkan pernyataan yang tegas: “Ini bukan Islam. Ini adalah Syiah.” Hizbut Tahrir memperingatkan bahwa Iran di bawah Khomeini bukan hanya akan menolak Khilafah Sunni, tetapi akan menjadi ancaman aktif bagi umat Islam Sunni di seluruh kawasan.
Peringatan ini — yang pada saat itu dianggap berlebihan — terbukti sangat akurat. Dalam dekade-dekade berikutnya, Iran menjadi kekuatan regional yang mendukung milisi-milisi Syiah di Irak, Lebanon, Suriah, dan Yaman, menciptakan poros konflik yang masih berlangsung hingga hari ini.
Perang Iran-Irak: Dua Rezim Sekuler yang Saling Hancurkan
Pada September 1980, Saddam Hussein — yang telah mengambil alih kekuasaan di Irak — meluncurkan invasi ke Iran. Perang yang berlangsung selama delapan tahun ini menewaskan lebih dari satu juta orang dari kedua belah pihak.
Hizbut Tahrir mengambil posisi yang konsisten: “Ini adalah perang antara dua rezim sekuler. Tidak ada pihak yang benar.” Partai ini tidak memihak Saddam maupun Khomeini — keduanya, dalam pandangan Hizbut Tahrir, adalah penguasa yang telah meninggalkan Islam dan membawa umat mereka ke dalam kehancuran.
5. Tekanan dan Ketahanan: Pembantaian, Ekspansi ke Eropa, dan Wafatnya Pendiri (1981-1990)
Dekade 1980-an adalah dekade yang membentuk karakter Hizbut Tahrir sebagai gerakan yang tahan banting. Ini adalah era di mana partai ini menghadapi beberapa tekanan terberat dalam sejarahnya — dan justru tumbuh karenanya.
Pembunuhan Sadat: “Bukan Metode Kami”
Pada 6 Oktober 1981, Anwar Sadat — Presiden Mesir yang telah menandatangani Camp David — dibunuh oleh anggota kelompok Jihad Islami dalam sebuah parade militer. Dunia terkejut. Pertanyaan yang segera muncul: apakah Hizbut Tahrir terlibat?
Jawaban Hizbut Tahrir tegas dan cepat: “Bukan metode kami. Ini adalah operasi individu yang tidak mewakili Hizbut Tahrir.” Partai ini secara konsisten menolak metode pembunuhan individu dan operasi bersenjata — bukan karena takut, tetapi karena manhaj Hizbut Tahrir sejak awal adalah dakwah pemikiran dan politik, bukan aksi kekerasan.
Hosni Mubarak naik menggantikan Sadat. Tekanan terhadap gerakan Islam — termasuk Hizbut Tahrir — meningkat drastis.
Pembantaian Hama: Luka yang Tidak Pernah Sembuh
Jika pembunuhan Sadat adalah guncangan, maka Pembantaian Hama pada Februari 1982 adalah trauma yang tidak pernah sembuh.
Hafez al-Assad — Presiden Suriah dan saudara dari Bashar al-Assad yang kini berkuasa — memerintahkan militer untuk menghancurkan kota Hama setelah pemberontakan yang dipimpin oleh Ikhwanul Muslimin. Hasilnya: lebih dari 20.000 warga sipil tewas. Kota itu dihancurkan blok demi blok. Mayat-mayat dikubur dalam kuburan massal. Dan yang menjadi target bukan hanya Ikhwanul Muslimin — anggota Hizbut Tahrir juga menjadi korban.
Hizbut Tahrir Suriah hampir punah. Anggota-anggota yang selamat harus melarikan diri ke Yordania dan — untuk pertama kalinya dalam jumlah besar — ke Eropa. Pembantaian Hama adalah pengingat yang brutal tentang harga yang harus dibayar ketika berani menentang tiran di dunia Arab.
Ekspansi ke Eropa: Dari Tragedi Muncul Peluang
Ironisnya, tragedi Hama justru membuka babak baru dalam sejarah Hizbut Tahrir: ekspansi ke Eropa.
Pada 1983, Hizbut Tahrir secara resmi mendirikan cabang di Inggris (Hizbut Tahrir Britain). Dakwah juga mulai masuk ke Prancis melalui imigran Arab dan ke Jerman melalui pelajar dan pekerja. Eropa — yang sebelumnya hanya dipandang sebagai daratan kafir yang menjajah dunia Islam — kini menjadi tempat berlindung bagi dakwah yang ditekan di Timur Tengah.
Pada 1984, Syaikh Taqiyyuddin (atau perwakilan utama Hizbut Tahrir) memindahkan markas internasional ke London. Keputusan ini strategis: London menawarkan kebebasan berbicara yang tidak ada di dunia Arab, akses ke media internasional, dan jarak yang aman dari tekanan rezim-rezim Timur Tengah.
Publikasi Internasional dan Suara yang Semakin Terdengar
Pada 1985, Al-Waie — majalah resmi Hizbut Tahrir — mulai terbit secara internasional. Versi bahasa Inggris diluncurkan, membuka pintu bagi dakwah kepada audiens yang lebih luas. Distribusi meluas ke Barat dan Timur. Pesan Hizbut Tahrir — bahwa Islam adalah solusi, bukan masalah — mulai didengar oleh orang-orang yang sebelumnya tidak pernah mendengarnya.
Wafatnya Sang Pendiri
Pada 1977 (beberapa sumber menyebutkan 1986), Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani wafat di Kuwait (beberapa sumber menyebutkan Beirut). Beliau meninggalkan warisan yang luar biasa: puluhan kitab yang menjadi fondasi intelektual Hizbut Tahrir, jaringan dakwah yang membentang dari Asia Tenggara hingga Afrika Utara, dan — yang paling penting — seorang pengganti yang telah dipersiapkan dengan matang.
Syaikh Abdul Qadim Zallum — yang telah bersama Hizbut Tahrir sejak hari-hari pertama, yang nyaris tertangkap di Homs pada 1958, yang hampir dieksekusi di Irak — diangkat sebagai Amir kedua Hizbut Tahrir. Pergantian kepemimpinan ini berjalan mulus, membuktikan bahwa Hizbut Tahrir bukan gerakan yang bergantung pada satu orang, tetapi pada manhaj yang jelas dan institusi yang kokoh.
Intifadah Pertama: Suara Tanpa Khilafah
Pada Desember 1987, rakyat Palestina bangkit dalam Intifadah Pertama — perlawanan rakyat terhadap pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza. Batu-batu dilemparkan ke tank-tank Israel. Anak-anak Palestina menjadi simbol perlawanan.
Hizbut Tahrir merespons dengan analisis yang konsisten: “Ini adalah hasil dari tidak adanya Khilafah.” Partai ini memberikan dukungan moral dan intelektual, tetapi tidak terlibat dalam operasi militer — sesuai dengan manhajnya. Hizbut Tahrir juga mengkritik PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) yang sekuler dan dipimpin oleh Yasser Arafat, yang pada saat itu mulai bergerak menuju negosiasi dengan Israel — negosiasi yang akan berakhir dengan Perjanjian Oslo pada dekade berikutnya.
Runtuhnya Uni Soviet dan Peluang di Asia Tengah
Pada 1988, seiring mulai runtuhnya Uni Soviet, Hizbut Tahrir melihat peluang baru: Asia Tengah. Dakwah masuk ke Uzbekistan, Tajikistan, dan Kirgizstan — negara-negara dengan mayoritas Muslim yang telah selama 70 tahun ditekan oleh rezim ateis Soviet. Responsnya luar biasa: Muslim Asia Tengah, yang telah lama haus akan identitas Islam mereka, menerima dakwah Hizbut Tahrir dengan tangan terbuka.
Pada November 1989, Tembok Berlin runtuh. Perang Dingin berakhir. Komunisme — salah satu ideologi besar yang telah mendominasi abad ke-20 — mati. Hizbut Tahrir mengeluarkan pernyataan: “Ini adalah akhir dari sekularisme dan komunisme. Sekarang saatnya Islam.”
Tetapi dunia tidak bergerak ke arah Islam. Ia bergerak ke arah hegemoni tunggal Amerika Serikat — dan ini akan membawa tantangan baru yang bahkan lebih besar.
Perang Teluk I: Pasukan AS Masuk ke Tanah Suci
Pada Agustus 1990, Saddam Hussein — yang baru saja keluar dari perang delapan tahun dengan Iran — menginvasi Kuwait. Dunia Arab terkejut. Raja Fahd dari Arab Saudi, yang merasa terancam, meminta bantuan Amerika Serikat.
Hizbut Tahrir bereaksi dengan keras: “Ini adalah buah dari tidak adanya Khilafah.” Lebih dari itu, partai ini mengkritik keputusan Arab Saudi untuk meminta bantuan Barat: “Anda mengundang pasukan kafir ke Tanah Suci — ke negeri yang memiliki Makkah dan Madinah.”
Pada Januari-Februari 1991, koalisi yang dipimpin AS melancarkan Operasi Badai Gurun, menghancurkan militer Irak dan memaksa Saddam keluar dari Kuwait. Tetapi kemenangan ini membawa konsekuensi yang jauh lebih berbahaya: pangkalan-pangkalan militer AS didirikan di Arab Saudi — untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, pasukan non-Muslim stationed di tanah yang paling suci bagi umat Islam.
Isu ini menjadi bahan dakwah yang sangat kuat bagi Hizbut Tahrir. Dan ia akan menjadi salah satu faktor yang memicu peristiwa-peristiwa besar pada dekade berikutnya.
6. Era Pasca-Perang Dingin: Hegemoni AS, Oslo, dan Taliban (1991-2000)
Dekade 1990-an adalah era di mana dunia Muslim menghadapi tantangan baru: hegemoni tunggal Amerika Serikat yang tidak tertandingi, “perdamaian” yang sebenarnya adalah penyerahan, dan munculnya gerakan-gerakan yang mengklaim Islam tetapi tidak mewakili Islam.
Pangkalan AS di Arabia: Penjajahan dengan Wajah Baru
Setelah Perang Teluk berakhir pada Februari 1991, pasukan AS tidak sepenuhnya pulang. Pangkalan-pangkalan militer didirikan di Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Qatar. Hizbut Tahrir menyebut ini dengan nama yang tepat: “Penjajahan baru oleh Barat.”
Argumen Hizbut Tahrir sederhana dan kuat: jika Arab Saudi benar-benar berdaulat, mengapa pasukan asing stationed di tanahnya? Jika raja-raja Teluk benar-benar mandiri, mengapa mereka membutuhkan perlindungan militer dari Amerika? Jawaban-jawaban yang tidak nyaman ini menjadi bahan dakwah yang efektif, terutama di kalangan pemuda Muslim yang mulai sadar akan realitas ketergantungan rezim-rezim mereka pada Barat.
Uzbekistan: Ribuan Ditangkap, Dakwah Tetap Tumbuh
Di Uzbekistan pada 1992, Presiden Islam Karimov — seorang mantan pejabat komunis yang kini memimpin negara Muslim — mulai menekan Hizbut Tahrir dengan brutal. Ribuan anggota ditangkap. Penyiksaan massal dilaporkan dari penjara-penjara Uzbekistan. Tetapi tekanan ini tidak menghentikan dakwah. Ia justru membuatnya tumbuh di bawah tanah, lebih kuat dan lebih tahan.
Pola ini akan terus berulang: di mana pun Hizbut Tahrir ditekan, ia menemukan cara untuk bertahan. Bukan karena keajaiban, tetapi karena manhaj dakwah pemikiran — yang tidak bergantung pada pemimpin, markas, atau infrastruktur fisik — membuatnya hampir mustahil untuk dihancurkan sepenuhnya.
Oslo: Pengkhianatan yang Sudah Diprediksi
Pada September 1993, Yasser Arafat — pemimpin PLO — dan Yitzhak Rabin — Perdana Menteri Israel — berjabat tangan di halaman Gedung Putih, dengan Bill Clinton sebagai saksi, menandatangani Perjanjian Oslo. Dunia merayakan “perdamaian” di Timur Tengah.
Hizbut Tahrir tidak merayakan. Partai ini menyebut Oslo dengan nama yang tepat: “Pengkhianatan terhadap Palestina.” Hizbut Tahrir mengkritik keras Otoritas Palestina yang baru dibentuk dan membuat prediksi yang pada saat itu terdengar ekstrem: “Tidak akan ada negara Palestina. Oslo hanya akan memberi Israel lebih banyak waktu untuk membangun pemukiman dan mencaplok lebih banyak tanah.”
Sekali lagi, sejarah membuktikan Hizbut Tahrir benar. Dua dekade setelah Oslo, pemukiman Israel di Tepi Barat telah berlipat ganda. Gaza tetap di bawah blokade. Dan “proses perdamaian” tidak menghasilkan apa-apa selain lebih banyak penderitaan bagi rakyat Palestina.
Ekspansi ke Rusia dan Peringatan Dini
Pada 1994, dakwah Hizbut Tahrir masuk ke Dagestan, Chechnya, dan Tatarstan — wilayah-wilayah di Federasi Rusia dengan populasi Muslim yang signifikan. Dakwah diterima baik oleh Muslim pasca-Soviet yang sedang mencari identitas baru setelah runtuhnya komunisme. Rusia mulai waspada — dan kekhawatiran ini akan berubah menjadi pelarangan total pada dekade berikutnya.
Taliban: Bukan Khilafah
Pada September 1996, Taliban mengambil alih Kabul dan mendirikan “Kekhalifahan Islam Afghanistan.” Beberapa kalangan di dunia Islam menyambut ini sebagai kebangkitan Khilafah.
Hizbut Tahrir tidak ikut menyambut. Partai ini mengeluarkan analisis yang tegas: “Ini bukan Khilafah. Ini adalah gerakan lokal.” Hizbut Tahrir mengkritik Taliban karena tidak menerapkan Khilafah secara benar — tidak ada baiat dari Ahlul Halli wal ‘Aqdi (dewan perwakilan umat), tidak ada struktur Khilafah yang sesuai dengan syariat, dan tidak ada klaim kepemimpinan atas seluruh umat Islam. Taliban, dalam pandangan Hizbut Tahrir, adalah emirat lokal — bukan Khilafah.
Posisi ini — yang pada saat itu tidak populer di kalangan yang berharap pada kebangkitan Islam — terbukti konsisten dengan manhaj Hizbut Tahrir: bahwa Khilafah bukan sekadar label “Islam” yang ditempel pada pemerintahan apapun. Ia memiliki syarat-syarat spesifik yang tidak bisa diabaikan.
Serangan AS ke Afghanistan dan Kritik terhadap Al-Qaeda
Pada Agustus 1998, Amerika Serikat meluncurkan serangan rudal ke Afghanistan sebagai respons terhadap pengeboman kedutaan besar AS di Kenya dan Tanzania (dan terkait dengan USS Cole). Hizbut Tahrir mengutuk serangan ini sebagai “agresi terhadap Muslim” — tetapi pada saat yang sama, partai ini tetap mengkritik Al-Qaeda: “Bukan metode Khilafah.”
Kritik ini penting: Hizbut Tahrir secara konsisten membedakan dirinya dari kelompok-kelompok yang menggunakan kekerasan. Partai ini menentang agresi Barat, tetapi juga menolak metode operasi militer individu yang tidak memiliki legitimasi syar’i dan yang — sebagaimana akan terbukti pada 9/11 — membawa bencana bagi umat Islam.
Ekspansi ke Amerika Utara
Pada 1999, dalam langkah yang menunjukkan keberanian dan kepercayaan pada manhajnya, Hizbut Tahrir mendirikan cabang di Amerika Serikat (Hizbut Tahrir America) dan memulai dakwah di Kanada. Fokusnya: Muslim imigran yang hidup di Barat dan mencari identitas Islam yang autentik di tengah masyarakat sekuler.
Intifadah Kedua: Siklus yang Berulang
Pada September 2000, Intifadah Al-Aqsa — gelombang kedua perlawanan Palestina — meletus setelah kunjungan Ariel Sharon ke kompleks Masjid Al-Aqsa yang provokatif. Hizbut Tahrir merespons dengan cara yang sama seperti Intifadah Pertama: “Ini adalah hasil dari tidak adanya Khilafah.” Dukungan moral diberikan. Kritik terhadap Hamas dan Fatah — yang keduanya, dalam pandangan Hizbut Tahrir, tidak menawarkan solusi yang sesungguhnya — terus disampaikan.
Dan kemudian datang 11 September 2001 — peristiwa yang akan mengubah segalanya.
7. Dunia Pasca 9/11: Fitnah, Pelarangan, dan Invasi (2001-2010)
Tidak ada peristiwa di abad ke-21 yang lebih berdampak pada umat Islam — dan pada Hizbut Tahrir secara khusus — daripada serangan 11 September 2001. Dalam satu pagi, menara kembar World Trade Center runtuh, dan seluruh dunia Muslim dicap sebagai teroris.
9/11: Respons yang Jelas
Pada 11 September 2001, pesawat-pesawat yang dibajak menghancurkan World Trade Center di New York dan merusak Pentagon di Washington. Hampir 3.000 orang tewas.
Respons Hizbut Tahrir jelas dan tegas:
- “Kami mengutuk serangan terhadap sipil.” — Posisi ini konsisten dengan prinsip Islam yang melarang pembunuhan orang yang tidak bersalah.
- “Ini bukan jihad. Ini adalah operasi intelijen.” — Hizbut Tahrir meragukan narasi resmi dan menyebut peristiwa ini sebagai operasi yang dirancang untuk memberikan pretext bagi perang Barat terhadap dunia Islam.
- “AS menuai apa yang tanam di Timur Tengah.” — Hizbut Tahrir tidak bersimpati kepada Amerika. Dekade dukungan AS kepada rezim-rezim tiran di dunia Islam, sanksi yang membunuh anak-anak Irak, dan pangkalan militer di Tanah Suci — semua ini, dalam pandangan Hizbut Tahrir, adalah dosa-dosa yang akhirnya menghasilkan konsekuensi.
Tetapi mengutuk serangan dan mengkritik Amerika adalah dua hal yang berbeda dari mendukung Al-Qaeda. Hizbut Tahrir secara konsisten menolak metode Al-Qaeda dan kelompok-kelompok serupa — bukan karena takut, tetapi karena manhaj.
Pelarangan di Jerman dan Rusia: Musuh yang Takut pada Ide
Pada Januari 2002, Jerman menjadi negara Barat pertama yang secara resmi melarang Hizbut Tahrir. Al-Manar — koran Hizbut Tahrir — ditutup. Anggota-anggota dideportasi atau diawasi ketat. Alasan: Hizbut Tahrir “menentang konstitusi” dan “menyebarkan kebencian.”
Pada Februari 2004, Rusia mengikuti langkah yang sama, menyatakan Hizbut Tahrir sebagai organisasi teroris. Ribuan anggota ditangkap di Asia Tengah — terutama di Uzbekistan, di mana penyiksaan massal dilaporkan. Pelarangan di Rusia bukan tentang terorisme. Ia tentang ketakutan: ketakutan bahwa ide Khilafah akan menarik Muslim Rusia yang telah lama merasa terpinggirkan.
Hizbut Tahrir merespons pelarangan-pelangaran ini dengan cara yang sama: terus berdakwah. Pelarangan fisik tidak bisa melarang ide. Dan ide — terutama ide yang telah bertahan selama hampir 50 tahun pada titik ini — tidak bisa dibunuh dengan dekret pemerintah.
Invasi AS ke Irak: Pengulangan Sejarah
Pada Maret 2003, Amerika Serikat — dengan koalisi kecil — menginvasi Irak dengan dalih senjata pemusnah massal (yang tidak pernah ditemukan). Saddam Hussein digulingkan. Irak tenggelam dalam kekacauan yang berlangsung hingga hari ini.
Hizbut Tahrir menyebut invasi ini dengan nama yang tepat: “Ini adalah penjajahan Barat.” Partai ini menyerukan jihad defensif — tetapi, sesuai dengan manhajnya, tidak terlibat dalam operasi militer. Anggota Hizbut Tahrir di Irak menjadi target empuk: diburu oleh pasukan AS, milisi Syiah, dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya.
Tetapi dakwah tidak berhenti. Di tengah kekacauan Irak, pesan Hizbut Tahrir — bahwa satu-satunya solusi adalah Khilafah — justru semakin relevan.
Ekspansi ke Australia dan Perang Lebanon
Pada 2005, Hizbut Tahrir secara resmi mendirikan cabang di Australia. Kontroversi segera muncul: pemerintah John Howard mencoba melarang partai ini, tetapi kebebasan berbicara di Australia membuat upaya ini sulit. Hizbut Tahrir Australia tetap berdakwah secara terbuka.
Pada Juli-Agustus 2006, Israel melancarkan perang besar terhadap Hezbollah di Lebanon. Hizbut Tahrir mengambil posisi yang konsisten: “Hezbollah bukan solusi. Khilafah adalah solusi.” Partai ini mengkritik Hezbollah bukan karena perlawanannya terhadap Israel, tetapi karena aliansinya dengan Iran Syiah — yang, dalam pandangan Hizbut Tahrir, menjadikan Hezbollah alat pengaruh Iran di dunia Arab, bukan gerakan pembebasan yang sesungguhnya.
Gaza: Hamas, Blokade, dan Perang
Pada Juni 2007, Hamas mengambil alih Gaza setelah memenangkan pemilu dan kemudian berkonflik dengan Fatah. Hizbut Tahrir mengkritik: “Hamas tidak menerapkan syariat secara penuh. Ia masih menggunakan sistem sekuler.” Kritik ini bukan berarti Hizbut Tahrir mendukung Israel — jauh dari itu. Tetapi partai ini konsisten: solusi untuk Palestina bukan Hamas, bukan Fatah, bukan PLO. Solusinya adalah Khilafah.
Pada Desember 2008, Israel melancarkan Operasi Tuangan Timah — serangan besar-besaran ke Gaza yang menewaskan lebih dari 1.400 Palestinians dalam tiga minggu. Hizbut Tahrir bereaksi dengan seruan yang sudah familiar: “Ini adalah hasil dari tidak adanya Khilafah. Umat harus bangkit.”
Obama: Retorika yang Tidak Berubah
Pada Juni 2009, Barack Obama — Presiden AS yang baru terpilih — berpidato di Kairo, Mesir, berjanji untuk “awal baru” dalam hubungan Amerika dengan dunia Islam. Pidato ini disambut dengan tepuk tangan oleh banyak pemimpin Arab.
Hizbut Tahrir tidak terpesona: “Ini hanya retorika. AS tetap musuh Islam.” Dan sekali lagi, sejarah membuktikan Hizbut Tahrir benar. Di bawah Obama, drone strikes di Pakistan dan Yemen meningkat. Dukungan AS kepada rezim-rezim tiran di dunia Islam berlanjut. Dan ketika Arab Spring meletus setahun kemudian, AS dengan cepat mendukung kudeta di Mesir dan intervensi di Libya — membuktikan bahwa “awal baru” hanyalah kata-kata.
Arab Spring Dimulai: Benih yang Mulai Berkecambah
Pada Desember 2010, seorang pedagang jalanan Tunisia bernama Mohamed Bouazizi membakar dirinya sendiri sebagai protes terhadap korupsi dan penindasan. Aksi ini memicu gelombang protes yang menyebar ke seluruh dunia Arab.
Hizbut Tahrir melihat ini sebagai peluang untuk Khilafah. Setelah 60 tahun berdakwah, menyerukan Islam sebagai solusi, dan mengkritik rezim-rezim sekuler — kini rakyat Arab sendiri mulai bangkit. Pertanyaannya: ke arah mana mereka akan bergerak?
8. Gelombang Arab Spring: Harapan, Pengkhianatan, dan ISIS (2011-2020)
Dekade 2010-an adalah era paling dramatis sejak pendirian Hizbut Tahrir. Arab Spring — yang dimulai sebagai harapan bagi kebangkitan Islam — berakhir dengan kudeta, perang saudara, dan munculnya ISIS yang mengklaim “Khilafah” palsu. Ini adalah era di mana Hizbut Tahrir harus mempertahankan manhajnya di tengah badai yang luar biasa.
2011: Runtuhnya Tirani
Pada 2011, satu per satu rezim tiran di dunia Arab jatuh:
- Tunisia: Zine El Abidine Ben Ali melarikan diri pada Januari
- Mesir: Hosni Mubarak — yang telah berkuasa selama 30 tahun — digulingkan pada Februari
- Libya: Muammar Gaddafi — yang telah berkuasa selama 42 tahun — digulingkan dan dibunuh pada Oktober
- Yaman: Ali Abdullah Saleh jatuh
Hizbut Tahrir merespons dengan pernyataan yang percaya diri: “Ini adalah buah dari dakwah kami selama 60 tahun.” Partai ini menyerukan rakyat Arab untuk tidak jatuh ke dalam perangkap demokrasi — yang, dalam pandangan Hizbut Tahrir, hanyalah sistem yang menggantikan kedaulatan Allah dengan kedaulatan manusia — tetapi untuk menerapkan syariat Islam dan bekerja menuju Khilafah.
2012-2013: Morsi dan Akhir Eksperimen Demokrasi
Pada Juni 2012, Muhammad Morsi — kandidat dari Ikhwanul Muslimin — terpilih sebagai Presiden Mesir dalam pemilu demokratis pertama dalam sejarah Mesir. Dunia merayakan “demokrasi Arab.”
Hizbut Tahrir tidak merayakan. Partai ini mengkritik: “Demokrasi bukan solusi.” Hizbut Tahrir menunjuk pada fakta bahwa Morsi tidak menerapkan syariat secara penuh — ia masih bekerja dalam kerangka konstitusi sekuler, masih menghormati perjanjian internasional yang bertentangan dengan Islam, dan masih bergantung pada militer yang pada akhirnya akan menghancurkannya.
Dan memang, pada 3 Juli 2013 — hanya satu tahun setelah terpilih — Morsi digulingkan dalam kudeta yang dipimpin oleh Abdel Fattah el-Sisi, Menteri Pertahanan Mesir. Ribuan anggota Ikhwanul Muslimin ditangkap. Ratusan dieksekusi. Mesir kembali ke kediktatoran — kali ini lebih brutal dari sebelumnya.
Hizbut Tahrir merespons dengan analisis yang tajam: “Ini adalah akhir dari eksperimen demokrasi.” Partai ini telah memperingatkan bahwa demokrasi tidak akan pernah memberi kekuasaan kepada orang-orang yang benar-benar ingin menerapkan Islam — dan ketika ia melakukannya, kekuatan-kekuasaan yang sebenarnya (militer, Barat, rezim Teluk) akan memastikan bahwa eksperimen itu dihentikan.
2014: ISIS dan “Khilafah” Palsu
Pada Juni 2014, Abu Bakar Al-Baghdadi — pemimpin Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) — berdiri di mimbar Masjid Agung An-Nur di Mosul, Irak, dan mendeklarasikan berdirinya “Khilafah Islam.” Dunia terkejut. Ribuan orang dari seluruh dunia bergabung dengan ISIS.
Respons Hizbut Tahrir tegas, cepat, dan tanpa kompromi:
- “Ini bukan Khilafah. Ini adalah kelompok teroris.”
- “Tidak ada baiat dari Ahlul Halli wal ‘Aqdi.” — Syarat fundamental Khilafah adalah baiat dari perwakilan umat, bukan deklarasi sepihak oleh seorang pemimpin milisi.
- “Ini merusak citra Khilafah.” — ISIS, dengan kekejamannya yang disiarkan secara global, telah membuat jutaan orang di seluruh dunia mengasosiasikan “Khilafah” dengan terorisme — persis hal yang ingin dicegah oleh Hizbut Tahrir.
Penolakan Hizbut Tahrir terhadap ISIS bukan sekadar perbedaan taktis. Ia adalah perbedaan fundamental tentang apa itu Khilafah. Khilafah, dalam pemahaman Hizbut Tahrir, adalah institusi yang memiliki syarat-syarat spesifik: Khalifah yang dipilih melalui baiat dari Ahlul Halli wal ‘Aqdi, wilayah yang memadai, keamanan yang terjamin, dan penerapan syariat secara kafah. ISIS tidak memenuhi satupun dari syarat-syarat ini. Ia adalah milisi yang mengklaim gelar yang bukan haknya.
2015-2017: Suriah Hancur, Yerusalem Diakui
Perang saudara Suriah — yang dimulai pada 2011 — terus menghancurkan negara itu hingga 2015 dan seterusnya. Lebih dari 500.000 orang tewas. Jutaan mengungsi. Kota-kota hancur. Hizbut Tahrir konsisten: “Ini adalah hasil dari tidak adanya Khilafah.” Fokus partai ini adalah pada bantuan kemanusiaan dan dakwah — bukan pada keterlibatan militer.
Pada Desember 2017, Donald Trump — Presiden AS — secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan besar AS ke kota suci tersebut. Hizbut Tahrir bereaksi dengan seruan yang sudah familiar: “Ini adalah kejahatan. Umat harus bangkit.” Demonstrasi-demonstrasi digelar di seluruh dunia Muslim.
2018-2020: Normalisasi, Pandemi, dan Dakwah Digital
Pada 2019, UAE dan Bahrain menandatangani Perjanjian Abraham — menormalisasi hubungan dengan Israel. Hizbut Tahrir menyebut ini “pengkhianatan terhadap Palestina.” Dan memang, normalisasi ini — yang diikuti oleh Sudan dan Morocco — telah mengisolasi Palestina lebih jauh dan memberi Israel legitimasi yang sebelumnya tidak dimilikinya di dunia Arab.
Pada Maret 2020, pandemi COVID-19 melanda dunia. Lockdown global mengubah segalanya — termasuk cara Hizbut Tahrir berdakwah. Konferensi-konferensi yang biasanya digelar secara fisik beralih ke format virtual. Dakwah shift ke online. Media sosial menjadi senjata utama. Ironisnya, pandemi — yang membatasi pergerakan fisik — justru memperluas jangkauan dakwah Hizbut Tahrir ke audiens yang sebelumnya tidak terjangkau.
9. Era Kontemporer: Perang, Genosida, dan Dakwah Digital (2021-Sekarang)
Kita kini hidup di era yang masih berlangsung — era di mana Hizbut Tahrir menghadapi tantangan-tantangan baru, tetapi juga peluang-peluang baru. Perang di Ukraina, genosida di Gaza, dan revolusi digital — semua ini membentuk konteks di mana dakwah Khilafah terus berjalan.
2021: Kebangkitan Dakwah Digital
Dakwah Hizbut Tahrir di era digital semakin kuat. Media sosial — YouTube, Twitter, Facebook, Telegram — menjadi saluran utama untuk menyebarkan tsaqofah Islam kepada jutaan orang yang sebelumnya tidak terjangkau. Konferensi-konferensi internasional digelar secara virtual, menghubungkan anggota Hizbut Tahrir dari 50+ negara dalam satu ruang digital.
Ini bukan sekadar adaptasi teknologi. Ini adalah perluasan jangkauan dakwah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
2022: Perang Ukraina — Dua Sekuler yang Saling Hancurkan
Pada Februari 2022, Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina. Perang ini — yang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II — menewaskan ratusan ribu orang dari kedua belah pihak dan memicu krisis ekonomi global.
Hizbut Tahrir menganalisis perang ini dengan cara yang konsisten: “Ini adalah perang antara dua rezim sekuler.” Rusia di bawah Putin dan Ukraina di bawah Zelensky — keduanya, dalam pandangan Hizbut Tahrir, adalah penguasa yang tidak menerapkan hukum Allah. Umat Muslim — terutama di Chechnya, Tatarstan, dan Crimea — terjepit di tengah konflik yang bukan urusan mereka.
Seruan Hizbut Tahrir tetap sama: umat Islam tidak boleh menjadi pion dalam permainan kekuatan-kekuasaan sekuler. Mereka harus memiliki negara mereka sendiri — Khilafah — yang melindungi kepentingan mereka.
2023-2024: Genosida Gaza dan Pengkhianatan Terbesar
Pada 7 Oktober 2023, Hamas melancarkan serangan ke Israel yang menewaskan sekitar 1.200 orang. Respons Israel — yang didukung penuh oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya — adalah genosida yang belum pernah terjadi sebelumnya di abad ke-21.
Hingga awal 2024, lebih dari 40.000 Palestinians — mayoritas wanita dan anak-anak — telah tewas di Gaza. Rumah-rumah, rumah sakit, sekolah, dan masjid-masjid dihancurkan. Jutaan orang mengungsi tanpa makanan, air, atau obat-obatan. Dan dunia — khususnya dunia Arab — hanya menonton.
Hizbut Tahrir merespons dengan seruan yang paling mendesak dalam sejarahnya: “Genosida ini terjadi dengan dukungan Barat. Umat harus punya Khilafah untuk melindungi Palestina.” Seruan ini bukan retorika kosong. Ia adalah kesimpulan logis dari 70 tahun analisis Hizbut Tahrir: selama umat Islam tidak memiliki negara yang menyatukan mereka, selama mereka bergantung pada rezim-rezim boneka yang lebih setia kepada Washington daripada kepada Al-Aqsa, genosida seperti ini akan terus terjadi.
Pada saat yang sama, pembicaraan normalisasi Saudi-Israel — yang telah berlangsung sebelum 7 Oktober — menjadi sorotan. Hizbut Tahrir menyebut ini “pengkhianatan terbesar.” Dan memang, normalisasi Saudi — yang merupakan penjaga dua kota suci — dengan Israel yang menduduki Al-Aqsa, adalah pengkhianatan yang sulit ditandingi.
2025 dan Seterusnya: Perjuangan Belum Selesai
Hizbut Tahrir kini hadir di lebih dari 50 negara di enam benua. Dakwah dilakukan dalam lebih dari 20 bahasa. Struktur kepemimpinan di bawah Syaikh Ata’ Abu Rashta — Amir ketiga Hizbut Tahrir yang menggantikan Syaikh Abdul Qadim Zallum — tetap konsisten dengan manhaj yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyyuddin lebih dari 70 tahun yang lalu.
Tantangan-tantangan masih besar: pelarangan di Jerman, Rusia, Mesir, dan beberapa negara Asia Tengah; fitnah terorisme yang masih melekat; tekanan dari rezim-rezim sekuler yang takut pada ide Khilafah. Tetapi dakwah tidak berhenti. Ia tidak pernah berhenti.
10. Peta Perjalanan: Ringkasan Analitis
Untuk memahami perjalanan 70 tahun ini secara keseluruhan, berikut adalah beberapa tabel analitis yang merangkum era demi era, pergantian kepemimpinan, dan ekspansi global Hizbut Tahrir.
Tabel 1: Ringkasan Era-Per-Era
| Era | Tahun | Tema Utama | Peristiwa Kunci | Pelajaran |
|---|---|---|---|---|
| Kegelangan Sebelum Fajar | 1924-1952 | Kekosongan pasca-Khilafah | Runtuhnya Khilafah 1924, Nakba 1948 | Umat butuh pemimpin |
| Kelahiran di Al-Quds | 1953-1960 | Pendirian dan ekspansi awal | HT didirikan 1953, Peristiwa Homs 1958 | Keberanian menghadapi tekanan |
| Ekspansi dan Ujian Berat | 1961-1970 | Tragedi Irak dan Libya | Kudeta Irak 1963, kudeta Libya 1969, Perang Enam Hari 1967 | Jangan bergantung pada penguasa |
| Kedewasaan | 1971-1980 | Fokus pada dakwah pemikiran | Ekspansi Asia Tenggara, Camp David 1978, Revolusi Iran 1979 | Dakwah pemikiran adalah jalan |
| Tekanan dan Ketahanan | 1981-1990 | Pembantaian dan ekspansi Eropa | Pembantaian Hama 1982, wafatnya An-Nabhani, Tembok Berlin runtuh | Ujian membentuk karakter |
| Pasca-Perang Dingin | 1991-2000 | Hegemoni AS dan Oslo | Perang Teluk, Oslo 1993, Taliban 1996 | Barat tetap penjajah |
| Pasca 9/11 | 2001-2010 | Fitnah dan invasi | 9/11, invasi Irak 2003, pelarangan Jerman & Rusia | Ide tidak bisa dilarang |
| Arab Spring | 2011-2020 | Harapan dan pengkhianatan | Morsi 2012, kudeta Sisi 2013, ISIS 2014 | Demokrasi bukan solusi |
| Era Kontemporer | 2021-Sekarang | Dakwah digital dan genosida | Perang Ukraina 2022, genosida Gaza 2023-2024 | Perjuangan terus berlanjut |
Tabel 2: Pergantian Kepemimpinan
| Amir | Periode | Latar Belakang | Kontribusi Utama |
|---|---|---|---|
| Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani | 1953-1977 | Pendiri, ulama dan ahli hukum Palestina | Merumuskan manhaj, menulis kitab-kitab fondasi (Asy-Syakhshiyyah, Nizhamul Islam, dll.) |
| Syaikh Abdul Qadim Zallum | 1977-2003 | Bersama HT sejak awal, nyaris tertangkap di Homs 1958 | Memperkuat struktur internasional, menulis Al-Amwal Fi Daulah Al-Khilafah, ekspansi ke Eropa dan Asia Tengah |
| Syaikh Ata’ Abu Rashta | 2003-Sekarang | Ulama Palestina, dekat dengan Syaikh Zallum | Memimpin HT melalui era pasca-9/11, Arab Spring, dan era digital; mempertahankan konsistensi manhaj |
Tabel 3: Peta Ekspansi Global
| Wilayah | Tahun Masuk | Cara Masuk | Status Kini |
|---|---|---|---|
| Palestina | 1953 | Pendirian | Aktif, ditekan |
| Yordania | 1953-1954 | Ekspansi langsung | Aktif, ditekan periodik |
| Suriah | 1953-1954 | Ekspansi langsung | Hampir punah pasca-Hama 1982, sisa-sisa di pengasingan |
| Libanon | 1953-1954 | Ekspansi langsung | Aktif |
| Kuwait | 1950-an | Melalui pelajar | Aktif |
| Irak | 1961 | Melalui pelajar Suriah | Ditekan berat pasca-1963, bangkit kembali pasca-2003 |
| Libya | 1966 | Ekspansi langsung | Ditekan berat pasca-1970, bangkit pasca-Gaddafi |
| Sudan | 1965 | Ekspansi langsung | Aktif |
| Malaysia | 1972 | Melalui pelajar di Timur Tengah | Aktif, ditekan periodik |
| Indonesia | 1972 | Melalui kitab dan surat | Aktif, berkembang pesat |
| Pakistan | 1974 | Ekspansi langsung | Aktif |
| Inggris | 1983 | Pengungsi dari Suriah | Aktif, markas internasional |
| Prancis | 1983 | Melalui imigran Arab | Aktif, ditekan |
| Jerman | 1983 | Melalui pelajar dan pekerja | Dilarang 2002, aktif bawah tanah |
| Uzbekistan | 1988 | Pasca-runtuhnya Soviet | Ditekan brutal, aktif bawah tanah |
| Amerika Serikat | 1999 | Ekspansi langsung | Aktif |
| Australia | 2005 | Ekspansi langsung | Aktif |
11. Lima Pelajaran Abadi dari 70 Tahun Perjuangan
Sejarah Hizbut Tahrir bukan sekadar kronologi peristiwa. Ia adalah gudang pelajaran — pelajaran yang telah dibayar dengan darah, penjara, dan pengasingan. Lima pelajaran ini adalah inti dari apa yang telah dipelajari oleh Hizbut Tahrir selama 70 tahun, dan mereka adalah pelajaran yang tidak boleh dilupakan oleh siapa pun yang ingin memahami gerakan ini.
Pelajaran Pertama: Konsistensi Manhaj adalah Kunci Bertahan
Hizbut Tahrir telah bertahan selama lebih dari 70 tahun bukan karena kekuatan militer, bukan karena kekayaan finansial, dan bukan karena dukungan penguasa. Ia bertahan karena konsistensi manhaj.
Setiap kali Hizbut Tahrir menyimpang dari manhajnya — seperti di Irak pada 1963 dan di Libya pada 1969 — hasilnya adalah bencana. Dan setiap kali Hizbut Tahrir kembali ke manhajnya — dakwah pemikiran dan politik, tanpa kekerasan, tanpa kompromi pada prinsip — ia bangkit kembali lebih kuat.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah sunnatullah: bahwa kebenaran, ketika dipegang dengan konsisten, akan selalu menang pada akhirnya.
Pelajaran Kedua: Ujian Membentuk Karakter, Bukan Menghancurkannya
Setiap dekade dalam sejarah Hizbut Tahrir memiliki ujiannya sendiri:
- 1950-an: Tekanan di Yordania dan Suriah, Peristiwa Homs
- 1960-an: Tragedi Irak (ratusan ditangkap, puluhan dieksekusi), tragedi Libya (anggota dikhianati dan dibunuh)
- 1970-an: Perang Saudara Lebanon, tekanan di Mesir
- 1980-an: Pembantaian Hama (20.000+ tewas), wafatnya pendiri
- 1990-an: Tekanan di Uzbekistan (ribuan ditangkap, penyiksaan massal)
- 2000-an: Pelarangan di Jerman dan Rusia, fitnah pasca-9/11
- 2010-an: Kudeta di Mesir, perang di Suriah, fitnah ISIS
- 2020-an: Genosida Gaza, perang Ukraina
Tetapi di setiap ujian ini, Hizbut Tahrir tidak hancur. Ia justru tumbuh. Bukan karena keajaiban, tetapi karena ujian-ujian ini membentuk karakter anggotanya: orang-orang yang tidak mudah menyerah, orang-orang yang tahu bahwa harga kebenaran memang mahal, dan orang-orang yang percaya bahwa janji Allah pasti terjadi.
Pelajaran Ketiga: Dakwah Pemikiran Selalu Menang
Kudeta gagal di Irak. Kudeta gagal di Libya. Demokrasi gagal di Mesir (Morsi digulingkan dalam satu tahun). Militerisme gagal di Suriah (perang saudara menghancurkan segalanya).
Satu-satunya yang bertahan — satu-satunya yang terus tumbuh bahkan di bawah tekanan terberat — adalah dakwah pemikiran.
Ini adalah pelajaran yang paling penting dari seluruh sejarah Hizbut Tahrir: bahwa mengubah cara berpikir orang adalah fondasi dari setiap perubahan yang sesungguhnya. Senjata bisa dilucuti. Pangkalan militer bisa ditutup. Rezim bisa digulingkan. Tetapi ide — ide yang telah mengakar dalam hati dan pikiran — tidak bisa dihancurkan oleh kekuatan apapun.
Pelajaran Keempat: Barat Tetaplah Barat
Dari kolonialisme Inggris dan Prancis pada awal abad ke-20, hingga invasi AS ke Irak pada 2003, hingga genosida Gaza pada 2024 — pola yang sama terus berulang.
Barat tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah caranya: dari kolonialisme langsung, ke neo-kolonialisme melalui rezim boneka, ke intervensi militer dengan dalih “demokrasi” dan “HAM.”
Hizbut Tahrir telah memahami ini sejak awal. Dan pemahaman ini — bahwa Barat adalah musuh yang tidak akan berhenti sebelum Islam tidak lagi menjadi kekuatan politik — adalah pemahaman yang harus dipegang oleh setiap Muslim yang sadar.
Pelajaran Kelima: Khilafah Akan Kembali
Ini bukan optimisme kosong. Ini adalah keyakinan yang didasarkan pada dua hal:
Pertama, janji Allah yang tegas dalam Al-Qur’an:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan beramal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (QS. An-Nur: 55)
Janji ini bukan metafora. Ia bukan simbol. Ia adalah janji dari Dzat yang tidak pernah ingkar janji.
Kedua, hadits Rasulullah ﷺ yang menggambarkan perjalanan umat Islam dalam empat fase:
لتسيرن سنن من كان قبلكم حذو القذة بالقذة حتى لو دخلوا جحر ضب لدخلتموه . قالوا يا رسول الله اليهود والنصارى ؟ قال : فمن ؟
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke lubang dhabb pun kalian akan masuk ke dalamnya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan dalam hadits lain yang lebih panjang, Rasulullah ﷺ menggambarkan:
تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة، فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها، ثم تكون ملكًا عاضًا، فيكون ما شاء الله أن يكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون ملكًا جبريًا، فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة
“Akan ada kenabian di tengah kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah mengangkatnya jika Dia menghendaki. Kemudian akan ada Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah (Khilafah di atas manhaj kenabian), dan ia berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah mengangkatnya jika Dia menghendaki. Kemudian akan ada kerajaan yang menggigit (mulkan ‘adhdhan), dan ia berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah mengangkatnya jika Dia menghendaki. Kemudian akan ada kerajaan yang menindas (mulkan jabriyyan), dan ia berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah mengangkatnya jika Dia menghendaki. Kemudian akan ada Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.” (HR. Ahmad)
Fase pertama (Khilafah Rasyidah) telah terjadi. Fase kedua (kerajaan yang menggigit) dan fase ketiga (kerajaan yang menindas) — yang mencakup era kolonialisme, nasionalisme, dan kediktatoran modern — sedang atau telah berlangsung. Dan fase keempat? Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah akan kembali.
Rasulullah ﷺ tidak mengatakan “mungkin.” Beliau tidak mengatakan “jika kondisi memungkinkan.” Beliau mengatakan “kemudian akan ada” — sebuah kepastian yang tidak bisa diragukan.
Dan Hizbut Tahrir — dengan 70 tahun sejarah, dengan jutaan pengikut di 50+ negara, dengan manhaj yang konsisten dan dakwah yang tak kenal lelah — adalah bagian dari persiapan menuju fase keempat itu.
12. Penutup: Timeline Ini Belum Selesai
Sejarah Hizbut Tahrir yang telah kita telusuri — dari kegelapan pasca-runtuhnya Khilafah pada 1924, hingga kelahiran di Al-Quds pada 1953, melalui tragedi Irak dan Libya, pembantaian Hama, pelarangan di Jerman dan Rusia, Arab Spring, ISIS, dan genosida Gaza — bukanlah sejarah yang sudah selesai.
Ia adalah bab-bab awal dari sebuah buku yang masih ditulis.
Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani memulai dengan satu orang di Yerusalem. Kini, lebih dari 70 tahun kemudian, Hizbut Tahrir hadir di lebih dari 50 negara, dalam lebih dari 20 bahasa, dengan ratusan ribu — mungkin jutaan — anggota dan simpatisan yang terus berdakwah, terus menyerukan Khilafah, dan terus percaya bahwa janji Allah pasti terjadi.
“Dan sesungguhnya telah Kami tuliskan di dalam Zabur, setelah (Kami tuliskan dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba Kami yang saleh.” (QS. Al-Anbiya: 105)
Ayat ini bukan tentang masa lalu. Ia tentang masa depan. Ia tentang hari — yang mungkin dekat, yang mungkin masih jauh — ketika umat Islam sekali lagi akan memiliki pemimpin yang menyatukan mereka di bawah hukum Allah. Hari ketika Palestina akan dibebaskan. Hari ketika keadilan akan tegak di muka bumi.
Timeline ini belum selesai. Bab terbaiknya masih akan datang.
Lanjutkan Perjalanan:
📚 Sejarah & Konteks:
- Keruntuhan Khilafah 1924
- Fase Pendirian Al-Quds 1953
- Gerakan-Gerakan Sebelum HT
- Biografi Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani
- Biografi Syaikh Abdul Qadim Zallum
- Biografi Syaikh Ata’ Abu Rashta
📖 Ensiklopedia Kitab: