Syeikh Abdul Qadim Zallum: Pengokoh Bangunan Dakwah yang Teguh

level-1 akar-sejarah-dan-konteks
#syeikh abdul qadim zallum #amir kedua #hizbut tahrir #ekonomi islam #biografi #sejarah

Biografi lengkap Amir Kedua Hizbut Tahrir - dari Hebron, kontribusi dalam ekonomi Islam, hingga kepemimpinan di masa penuh ujian

Syeikh Abdul Qadim Zallum: Pengokoh Bangunan Dakwah yang Teguh

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Pada tahun 1924 M, di kota suci Al-Khalil (Hebron), Palestina, seorang bayi laki-laki lahir ke dunia. Tidak ada yang istimewa dari kelahiran itu — setidaknya secara kasat mata. Tidak ada tanda-tanda khusus, tidak ada ramalan dari orang-orang saleh, tidak ada peristiwa alam yang menyertainya. Hanya seorang bayi yang menangis, seperti jutaan bayi lainnya yang lahir setiap hari.

Tetapi ada satu hal yang membuat kelahiran ini — jika direnungkan dengan mata hati — sarat dengan simbolisme yang memilukan: bayi itu lahir tepat di tahun yang sama ketika Kekhilafah Utsmaniyah secara resmi dihapuskan oleh Mustafa Kemal Atatürk di Turki. Umat Islam di seluruh dunia kehilangan pelindung politik mereka. Bendera tauhid yang telah berkibar selama lebih dari 1.300 tahun diturunkan. Dan di saat yang hampir bersamaan, di sebuah kota kecil di Palestina yang penuh berkah, Allah ﷻ menghadirkan seorang anak yang suatu hari nanti akan mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengembalikan apa yang telah hilang itu.

Anak itu bernama Abdul Qadim Zallum. Dan ironi sejarah ini — bahwa ia lahir saat umat kehilangan perisainya — seolah menjadi takdir yang membentuk seluruh arah hidupnya.


1. Al-Khalil: Kota Para Nabi, Tempat Lahirnya Keteguhan

Tanah yang Memilih Orang-Orangnya

Al-Khalil — atau yang lebih dikenal dunia sebagai Hebron — bukan kota biasa. Ini adalah kota yang menyimpan jejak langkah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kota di mana Masjid Al-Ibrahimi berdiri sebagai saksi bisu dari ribuan tahun sejarah tauhid. Kota ini telah direbut, dihancurkan, dibangun kembali, dan direbut lagi berkali-kali sepanjang sejarah. Dan setiap kali itu terjadi, penduduknya menunjukkan keteguhan yang luar biasa.

Dari tanah inilah Syeikh Abdul Qadim kecil menyerap — bukan melalui pelajaran formal, melainkan melalui udara yang ia hirup dan dinding-dinding batu yang ia sentuh setiap hari — nilai-nilai keteguhan dan keberanian. Di Al-Khalil, orang tidak belajar tentang keteguhan dari buku. Mereka belajar dari kenyataan bahwa setiap hari, kota mereka adalah kota yang diperebutkan, dan setiap hari mereka harus memilih: bertahan atau menyerah. Dan penduduk Al-Khalil tidak pernah memilih untuk menyerah.

Perjalanan Ilmu: Dari Al-Khalil ke Al-Azhar

Sebagai anak muda, Abdul Qadim menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Beliau menghafal Al-Qur’an sejak usia muda — bukan karena dipaksa, melainkan karena ada sesuatu di dalam dirinya yang merindukan Kitabullah. Ketika tiba saatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, pilihan yang paling alami adalah Universitas Al-Azhar di Kairo — universitas yang telah selama seribu tahun menjadi mercusuar ilmu Islam.

Beliau menempuh pendidikan di Al-Azhar dan menyelesaikan studinya pada tahun 1949 M dengan keahlian di bidang hukum syariah. Beliau lulus dengan predikat ممتاز (sangat memuaskan) dan menunjukkan spesialisasi yang mendalam dalam fikih muamalah — hukum-hukum yang mengatur transaksi ekonomi, perdagangan, dan keuangan.

Allah ﷻ berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Tetapi yang membuat beliau berbeda dari ribuan lulusan Al-Azhar lainnya bukanlah prestasinya. Yang membedakan beliau adalah kegelisahan yang ia bawa sejak Palestina — kegelisahan seorang yang melihat umatnya hidup dalam keadaan hina dan bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan?“


2. Pertemuan yang Mengubah Segalanya

Ketika Dua Arus Pemikiran Bertemu

Di Al-Azhar lah takdir mempertemukan beliau dengan Syeikh Taqiuddin An-Nabhani. Pertemuan ini bukan pertemuan biasa antara dua ulama yang saling menghormati. Ini adalah pertemuan yang mengubah arah sejarah.

Bayangkan suasana itu: seorang pemuda Palestina yang baru tiba di Kairo, membawa serta kegelisahan tentang nasib umat, duduk di sebuah majelis ilmu dan mendengarkan seorang syeikh yang lebih tua berbicara tentang Islam sebagai sistem yang utuh — bukan hanya ritual, bukan hanya moralitas, tetapi sistem yang mengatur pemerintahan, ekonomi, pergaulan, pendidikan, dan seluruh aspek kehidupan. Dan syeikh itu tidak hanya berbicara. Beliau telah menulis kitab-kitab yang merancang sistem itu secara detail.

Bagi Abdul Qadim muda, ini seperti seseorang yang telah berjalan dalam kegelapan selama bertahun-tahun, kemudian tiba-tiba melihat cahaya. Beliau mengenali dalam pemikiran Taqiuddin sesuatu yang selama ini ia cari: jawaban yang utuh, rasional, dan bersumber dari Islam itu sendiri — bukan pinjaman dari Barat, bukan nostalgia romantisme masa lalu, tetapi bangunan pemikiran yang kokoh dan siap diterapkan.

Menjadi Kader Pertama

Sejak saat itu, beliau menjadi salah satu kader pertama Hizbut Tahrir — partai yang didirikan oleh Syeikh Taqiuddin pada tahun 1953 di Al-Quds. Beliau bukan sekadar anggota. Beliau adalah sahabat setia yang mendampingi Syeikh Taqiuddin dalam setiap langkah dakwah, berdiskusi, berdebat, merumuskan, dan membangun.

Hubungan antara Syeikh Taqiuddin dan Syeikh Abdul Qadim bisa diibaratkan seperti hubungan antara seorang arsitek dan seorang insinyur struktur. Arsitek merancang bangunan — indah, megah, visioner. Tetapi bangunan itu tidak akan berdiri tanpa insinyur yang memastikan bahwa setiap tiang cukup kuat, setiap fondasi cukup dalam, dan setiap sambungan cukup kokoh untuk menahan beban. Syeikh Taqiuddin adalah arsiteknya. Syeikh Abdul Qadim adalah insinyur strukturnya.

Tabel 1: Peran Syeikh Abdul Qadim dalam Periode Pendirian HT

PeriodePeranKontribusi Utama
1949-1953Mahasiswa Al-Azhar, kader awalMempelajari dan mendalami pemikiran Syeikh Taqiuddin
1953-1977Kader senior, sahabat pendiriMendampingi Syeikh Taqiuddin dalam membangun struktur HT
1950-1970-anPenulis dan penelitiMengembangkan pemikiran ekonomi Islam (Nizhamul Iqtishadi)
1977Penerus kepemimpinanMengemban amanah sebagai Amir Kedua Hizbut Tahrir

3. Kontribusi Intelektual: Menjawab Kekacauan Ekonomi Dunia

Mengapa Ekonomi Islam?

Jika ada satu bidang di mana kontribusi Syeikh Abdul Qadim Zallum paling terasa, itu adalah ekonomi Islam. Dan ini bukan kebetulan. Pada pertengahan abad ke-20, dunia terpecah menjadi dua blok ekonomi yang saling bermusuhan: Kapitalisme di bawah pimpinan Amerika Serikat dan Sosialisme/Komunisme di bawah pimpinan Uni Soviet. Umat Islam, yang terjajah dan terpecah, tidak memiliki sistem ekonomi sendiri — mereka hanya bisa memilih antara menjadi pengikut Kapitalisme atau pengikut Sosialisme.

Syeikh Abdul Qadim melihat ini sebagai masalah yang fundamental. Bagaimana mungkin umat Islam yang memiliki Al-Qur’an dan Sunnah — yang mengatur segala sesuatu, mulai dari cara berdagang di pasar hingga cara mengelola kekayaan alam — harus memilih antara dua sistem buatan manusia yang keduanya cacat?

An-Nizhamul Iqtishadi fil Islam: Kitab yang Mengubah Cara Pandang

Karya monumental beliau adalah kitab An-Nizhamul Iqtishadi fil Islam (Sistem Ekonomi dalam Islam). Kitab ini bukan sekadar buku fikih muamalah yang membahas hukum jual-beli, riba, dan zakat. Ini adalah sistem ekonomi yang utuh — dari filosofi hingga detail teknis.

Berikut adalah pilar-pilar utama yang beliau bangun dalam kitab ini:

Mata Uang Emas dan Perak: Fondasi yang Dilupakan

Salah satu kontribusi paling visioner dari Syeikh Abdul Qadim adalah penekanan beliau pada Dinar (emas) dan Dirham (perak) sebagai mata uang Islam. Pada saat hampir seluruh dunia telah beralih ke mata uang kertas (fiat currency) — mata uang yang nilainya tidak didasarkan pada apa pun selain kepercayaan pada pemerintah yang mengeluarkannya — beliau dengan tegas menyatakan bahwa Islam memiliki standar mata uang yang berbeda.

Beliau menjelaskan bahwa emas dan perak memiliki nilai intrinsik yang nyata. Satu gram emas hari ini tetap bernilai satu gram emas seratus tahun yang lalu. Berbeda dengan mata uang kertas yang bisa dicetak sebanyak-banyaknya oleh bank sentral — yang mengakibatkan inflasi, devaluasi, dan pencurian terselubung terhadap kekayaan rakyat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْوَزْنُ وَزْنُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَالْمِكْيَالُ مِكْيَالُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ

“Timbangan adalah timbangan penduduk Madinah dan takaran adalah takaran penduduk Madinah.” (HR. Abu Dawud)

Dari hadits ini dan dalil-dalil lainnya, beliau menunjukkan bahwa Islam menetapkan standar yang objektif dan stabil untuk transaksi ekonomi — standar yang tidak bisa dimanipulasi oleh penguasa atau bankir.

Prediksi beliau tentang kelemahan mata uang kertas terbukti secara dramatis pada krisis keuangan 2008, ketika sistem keuangan global yang berbasis mata uang fiat hampir runtuh total. Dan hingga hari ini, seruan beliau untuk kembali ke standar emas dan perak semakin didengar oleh para ekonom yang kecewa dengan sistem yang ada.

Tiga Jenis Kepemilikan: Keadilan yang Terstruktur

Syeikh Abdul Qadim merumuskan dengan jernih bahwa Islam mengenal tiga jenis kepemilikan, masing-masing dengan aturan yang berbeda:

  1. Kepemilikan Individu (Al-Milkiyyah Al-Fardiyyah) — Hak milik perorangan yang dilindungi oleh Islam. Seseorang boleh memiliki rumah, tanah, kendaraan, dan harta lainnya. Islam tidak melarang kekayaan pribadi.

  2. Kepemilikan Umum (Al-Milkiyyah Al-‘Ammah) — Sumber daya yang merupakan milik bersama seluruh umat, seperti air, padang rumput, api (energi), dan mineral. Ini tidak boleh diprivatisasi atau dimiliki oleh individu atau korporasi tertentu.

  3. Kepemilikan Negara (Milkiyyah Ad-Daulah) — Harta yang dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat, seperti tanah-tanah yang tidak bertuan, harta fa’i’, dan pendapatan dari kepemilikan umum.

Pembedaan ini sangat penting karena ia menjawab dua ekstrem yang sama-sama merusak: Kapitalisme yang memprivatisasi segala sesuatu (termasuk air dan mineral), dan Sosialisme yang menasionalisasi segala sesuatu (termasuk rumah dan toko pribadi). Islam berada di tengah — melindungi hak milik individu, tetapi memastikan bahwa sumber daya yang vital bagi kehidupan bersama tetap menjadi milik bersama.

Baitul Mal: Jantung Ekonomi Negara Islam

Beliau juga menguraikan secara detail peran Baitul Mal (Kas Negara) dalam sistem ekonomi Islam. Baitul Mal bukan sekadar “bank pemerintah.” Ia adalah institusi yang mengelola harta umat — mengumpulkan zakat, mengelola pendapatan dari kepemilikan umum, mendistribusikan kekayaan kepada yang berhak, dan memastikan bahwa tidak ada seorang pun di negeri Islam yang kelaparan sementara yang lain hidup dalam kemewahan yang berlebihan.

Tabel 2: Perbandingan Sistem Ekonomi

AspekKapitalismeSosialismeIslam (menurut Syeikh Abdul Qadim)
KepemilikanSwasta mutlakNegara mutlakTiga jenis: individu, umum, negara
Mata UangFiat (kertas), bisa dicetak tak terbatasFiat, dikontrol negaraDinar (emas) & Dirham (perak)
Distribusi KekayaanPasar bebas, kesenjangan lebarRata-rata paksa, tidak ada insentifZakat, warisan, larangan riba, Baitul Mal
Peran NegaraMinimal (penjaga malam)Total (mengatur segalanya)Aktif: menjamin kebutuhan dasar rakyat
RibaDiperbolehkan, bahkan jadi fondasiDilarang (tetapi diganti kontrol negara)Dilarang mutlak, diganti sistem bagi hasil

Kritik terhadap Kapitalisme: Bukan Sekadar Teriakan

Yang membuat karya Syeikh Abdul Qadim berbeda dari kritik-kritik lain terhadap Kapitalisme adalah bahwa beliau tidak hanya mengkritik. Beliau menawarkan alternatif. Beliau menunjukkan keroposnya sistem Kapitalisme — bagaimana ia menguntungkan pemilik modal, menindas yang lemah, menghasilkan kesenjangan yang semakin lebar, dan berbasis pada riba yang secara eksplisit diharamkan oleh Allah ﷻ.

Tetapi kemudian beliau tidak berhenti di situ. Beliau merancang sistem Islam yang lengkap — dari mata uang hingga kepemilikan, dari pajak (bukan pajak dalam pengertian modern, tetapi zakat dan kharaj) hingga perdagangan internasional — sehingga umat tidak hanya tahu apa yang salah, tetapi juga tahu apa yang harus diganti.

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ

“Sebaik-baik harta adalah harta yang shaleh untuk wanita yang shaleh.” (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam tidak anti-harta. Islam anti-kezaliman dalam memperoleh dan mengelola harta. Dan inilah yang Syeikh Abdul Qadim sampaikan: Islam memiliki sistem ekonomi yang adil, yang memungkinkan orang menjadi kaya tanpa menindas, dan yang memastikan bahwa kekayaan tidak hanya berputar di kalangan orang kaya saja.

Allah ﷻ berfirman:

كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

“…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7)


4. Kepemimpinan di Tengah Badai: 25 Tahun yang Menggetarkan

Amanah yang Tidak Diminta

Pada tahun 1977 M — atau 1986, tergantung versi yang dipercaya — Syeikh Taqiuddin An-Nabhani berpulang ke rahmatullah. Dan amanah kepemimpinan Hizbut Tahrir berpindah kepada Syeikh Abdul Qadim Zallum.

Ini bukan amanah yang ringan. Bayangkan apa yang beliau hadapi: Hizbut Tahrir saat itu sudah ada di beberapa negara, tetapi masih relatif kecil. Di banyak negeri Muslim, menjadi anggota Hizbut Tahrir adalah kejahatan yang bisa dihukum penjara — atau lebih buruk. Dan beliau, sebagai pemimpin, adalah orang yang paling dicari oleh intelijen berbagai negara.

Beliau tidak meminta jabatan ini. Tetapi ketika amanah itu datang, beliau menerimanya — bukan karena keinginan untuk memimpin, melainkan karena kesadaran bahwa seseorang harus memimpin, dan beliau adalah orang yang paling memahami pemikiran dan metode yang telah dibangun oleh Syeikh Taqiuddin.

Badai yang Tidak Pernah Berhenti

Masa kepemimpinan beliau (1977-2003) — selama 25 tahun — dipenuhi dengan tantangan yang dahsyat. Hizbut Tahrir di bawah kepemimpinan beliau menghadapi tekanan dan pengejaran dari berbagai penguasa lalim di banyak negeri Muslim.

Tabel 3: Tekanan yang Dihadapi HT di Masa Syeikh Zallum

NegaraBentuk TekananRespons HT
SuriahPembunuhan anggota di Hama (1982), penjara tanpa pengadilanTetap dakwah, tidak mundur
MesirPenangkapan massal, penyiksaan di penjara, pengadilan militerKader tetap istiqamah
IrakLarangan total, eksekusi anggota di bawah rezim SaddamDakwah bawah tanah
YordaniaPembatasan aktivitas, pemecatan dari pekerjaan, penjaraDialog terbuka, tidak mundur
UzbekistanPenyiksaan massal, penjara tanpa batas, penghilangan paksaKader tumbuh justru karena tekanan

Kesabaran Seteguh Karang — Tetapi Bukan Kaku

Syeikh Zallum dikenal sebagai pemimpin yang memiliki kesabaran seteguh karang. Tetapi karang yang dimaksud di sini bukan karang yang kaku dan tidak fleksibel. Karang di lautan itu keras, tetapi ia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan arus. Ia tidak melawan ombak secara langsung — ia membiarkan ombak datang dan pergi, dan ia tetap berdiri.

Begitulah kepemimpinan beliau. Beliau tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Beliau tidak panik ketika kader ditangkap. Beliau tidak mengubah metode ketika tekanan meningkat. Beliau tetap pada manhaj yang telah digariskan oleh Syeikh Taqiuddin — manhaj Rasulullah ﷺ — dan beliau percaya bahwa kesabaran bukanlah kepasrahan, melainkan strategi.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Menolak Jalan Pintas: Prinsip yang Tidak Bisa Ditawar

Di tengah tekanan yang begitu besar, selalu ada godaan untuk mengambil “jalan pintas.” Beberapa gerakan Islam pada masa itu memilih jalan kekerasan — membentuk milisi, melakukan serangan, mencoba menggulingkan penguasa dengan kekuatan senjata. Gerakan lain memilih jalan kompromi — ikut pemilu, bergabung dengan sistem demokrasi, menerima aturan main yang ditetapkan oleh penguasa sekuler.

Syeikh Zallum menolak keduanya. Dengan tegas dan tanpa keraguan, beliau menyatakan bahwa:

  • Kudeta militer bukan manhaj Rasulullah ﷺ. Rasulullah tidak pernah merebut kekuasaan dengan kekuatan senjata. Beliau membangun pemikiran, meraih dukungan umat, dan kemudian menerima kekuasaan.
  • Kekerasan menyimpang dari Islam. Hizbut Tahrir adalah partai politik yang berjuang dengan pemikiran, bukan dengan senjata.
  • Kompromi dengan penguasa mengorbankan prinsip. Tidak ada gunanya mendapatkan kursi di parlemen jika harus menerima kedaulatan manusia di atas kedaulatan Allah.
  • Ikut pemilu demokrasi berarti menerima sistem kufur. Demokrasi menempatkan kedaulatan di tangan manusia — dan ini bertentangan dengan akidah Islam yang menetapkan bahwa kedaulatan mutlak ada di tangan Allah.

Ini bukan sikap yang populer. Di saat banyak orang mencari hasil cepat, beliau memilih jalan yang panjang dan berliku. Tetapi beliau tahu bahwa hasil yang dicapai dengan cara yang salah tidak akan bertahan. Dan beliau lebih memilih kebenaran yang lambat daripada kebatilan yang cepat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Rasulullah bagi orang yang (mengharapkan) rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)


5. Ekspansi yang Menakjubkan: Ketika Tekanan Menjadi Bahan Bakar

Paradoks yang Tidak Masuk Akal

Salah satu hal paling menakjubkan dari masa kepemimpinan Syeikh Zallum adalah ini: semakin keras tekanan yang dihadapi Hizbut Tahrir, semakin luas penyebarannya. Ini adalah paradoks yang tidak masuk akal secara politis, tetapi sangat masuk akal secara spiritual.

Di bawah arahan beliau, dakwah Hizbut Tahrir tumbuh subur dan meluas ke wilayah-wilayah yang sebelumnya belum pernah disentuh:

WilayahPeriode MasukCatatan
Asia Tengah1990-anUzbekistan, Tajikistan, Kirgizstan — tumbuh pesat meski di bawah tekanan rezim otoriter
Eropa1980-1990-anInggris, Prancis, Jerman, Belanda — melalui mahasiswa dan diaspora Muslim
Australia1990-anKomunitas Muslim yang mencari identitas Islam yang utuh
Amerika1990-anMelalui jaringan intelektual Muslim
Asia Tenggara1980-anIndonesia, Malaysia — melalui alumni Al-Azhar dan jaringan dakwah

Mengapa HT Tumbuh di Tengah Tekanan?

Ada beberapa faktor yang menjelaskan fenomena ini:

Pertama, jaringan alumni Al-Azhar. Lulusan-lulusan Al-Azhar yang telah terpapar pemikiran Hizbut Tahrir kembali ke negara masing-masing dan membawa serta pemahaman yang berbeda tentang Islam — pemahaman yang utuh, sistematis, dan politis.

Kedua, pelajar Muslim di Barat. Mahasiswa-mahasiswa Muslim yang belajar di Eropa dan Amerika menemukan dalam Hizbut Tahrir sebuah jawaban atas kebingungan identitas mereka: mereka bisa menjadi Muslim yang taat tanpa harus menolak modernitas, dan mereka bisa menjadi warga negara yang baik tanpa harus mengorbankan akidah mereka.

Ketiga, dan yang paling penting, tekanan itu sendiri. Ketika seorang Muslim di Uzbekistan dipenjara karena membaca kitab Hizbut Tahrir, pertanyaan yang muncul di benak orang-orang di sekitarnya adalah: “Kitab apa yang begitu berbahaya sampai orang harus dipenjara hanya karena membacanya?” Dan ketika mereka membaca kitab itu, mereka menemukan bukan ajaran kekerasan, melainkan pemikiran yang jernih dan sistematis. Tekanan, alih-alih mematikan dakwah, justru menjadi alat promosi yang paling efektif.


6. Kehidupan Pribadi: Pemimpin yang Hidup Sederhana

Tidak Ada Kemewahan di Ujung Jalan

Meskipun memimpin sebuah gerakan global yang anggotanya tersebar di lebih dari 50 negara, Syeikh Abdul Qadim Zallum hidup dengan kesederhanaan yang mencolok. Beliau tidak memiliki rumah mewah. Beliau tidak menumpuk harta. Beliau tidak menikmati fasilitas yang biasanya dinikmati oleh pemimpin organisasi besar.

Ini bukan pose. Ini bukan pencitraan. Ini adalah keyakinan yang tulus bahwa seorang yang memperjuangkan Islam tidak boleh hidup berbeda dari cara Islam mengajarkan umatnya untuk hidup. Bagaimana mungkin seorang pemimpin Hizbut Tahrir — yang mengkritik kesenjangan ekonomi Kapitalisme — hidup dalam kemewahan sementara kader-kadernya di Uzbekistan dipenjara dan disiksa?

Tawadhu yang Tulus

Beliau dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati. Beliau tidak meminta orang memanggilnya dengan gelar-gelar yang megah. Beliau tidak membangun kultus kepribadian. Beliau tidak pernah berkata “ikuti saya karena saya pemimpin.” Beliau berkata “ikuti pemikiran ini karena pemikiran ini benar.”

Dan inilah yang membedakan beliau dari banyak pemimpin lainnya: beliau tidak ingin orang mengikuti dirinya. Beliau ingin orang mengikuti kebenaran.


7. Akhir Perjalanan: Tongkat Estafet Diteruskan

Pengunduran Diri dan Wafat

Setelah mengabdi memimpin perjuangan selama 25 tahun — seperempat abad yang penuh dengan badai, tekanan, penangkapan, dan pengorbanan — beliau mengundurkan diri karena kesehatan dan usia yang sudah lanjut.

Beliau berpulang ke haribaan Ilahi pada tahun 2003 M di Beirut, Lebanon, dalam usia 79 tahun. Beliau meninggal di tanah pengasingan — bukan di tanah kelahirannya, Palestina. Ironi yang memilukan, tetapi juga simbol yang tepat: seorang yang menghabiskan hidupnya memperjuangkan pembebasan tanah airnya, tetapi tidak sempat melihat tanah itu merdeka.

Warisan yang Tidak Bisa Dihapus

WarisanDeskripsi
Gerakan yang KokohHizbut Tahrir ada di 50+ negara, dengan jutaan pengikut
Khazanah Ekonomi IslamAn-Nizhamul Iqtishadi fil Islam menjadi rujukan utama
Teladan Kepemimpinan25 tahun memimpin tanpa kompromi, tanpa kekerasan, tanpa putus asa
Kader yang IkhlasRibuan pengemban dakwah yang siap memikul amanah

Beliau mewariskan sesuatu yang langka dalam sejarah gerakan Islam: sebuah gerakan yang tidak berubah arah meskipun berganti pemimpin. Hizbut Tahrir di bawah Syeikh Zallum adalah Hizbut Tahrir yang sama dengan Hizbut Tahrir di bawah Syeikh Taqiuddin — sama dalam pemikiran, sama dalam metode, sama dalam tujuan. Dan ini adalah pencapaian yang sangat sulit, karena biasanya ketika pemimpin berganti, arah gerakan juga berubah.

Tetapi Syeikh Zallum memahami bahwa yang penting bukan siapa yang memimpin, melainkan apa yang diperjuangkan. Dan selama “apa” itu tetap terjaga, maka “siapa” bisa berganti tanpa mengubah arah.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan mendapat kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 121)


8. Pelajaran dari Kehidupan Syeikh Abdul Qadim Zallum

Tentang Kesabaran yang Strategis

Beliau mengajarkan bahwa kesabaran bukan berarti tidak berbuat apa-apa. Kesabaran beliau adalah kesabaran yang aktif — kesabaran yang terus bekerja, terus membangun, terus berdakwah, meskipun hasilnya belum terlihat. Beliau memimpin selama 25 tahun, dan di sebagian besar periode itu, Hizbut Tahrir masih dianggap sebagai gerakan kecil yang tidak diperhitungkan. Tetapi beliau tidak pernah berhenti.

Ada analogi yang tepat untuk menggambarkan kesabaran beliau: seorang petani yang menanam pohon jati. Pohon jati tidak berbuah dalam satu tahun. Ia tidak menghasilkan kayu yang berkualitas dalam lima tahun. Butuh puluhan tahun sebelum pohon itu bisa dimanfaatkan. Tetapi petani yang bijak tidak berhenti merawat pohon itu hanya karena hasilnya belum terlihat. Ia tahu bahwa setiap hari ia menyiram, setiap bulan ia memangkas, dan setiap tahun ia menunggu — semua itu adalah bagian dari proses yang tidak bisa dipercepat.

Syeikh Zallum adalah petani itu. Dan Hizbut Tahrir adalah pohon jati yang beliau rawat selama 25 tahun. Beliau tahu bahwa perubahan peradaban tidak bisa dicapai dalam satu generasi. Tetapi beliau juga tahu bahwa jika tidak ada yang mulai menanam hari ini, maka generasi berikutnya tidak akan pernah menikmati hasilnya.

Tentang Ilmu yang Mengakar

Beliau adalah ulama yang menulis, bukan hanya aktivis yang berteriak. Beliau memahami bahwa teriakan mungkin bisa membangunkan orang dari tidur, tetapi hanya pemikiran yang bisa mengubah cara berpikir mereka. Dan mengubah cara berpikir — bukan sekadar mengubah perilaku — itulah yang mengubah peradaban.

Inilah yang sering dilupakan oleh banyak gerakan: mereka fokus pada aksi tanpa membangun fondasi pemikiran. Mereka ingin hasil cepat tanpa membangun pemahaman yang mendalam. Dan hasilnya selalu sama: gerakan yang besar di permukaan tetapi rapuh di dalam, seperti bangunan yang cat luarnya bagus tetapi fondasinya keropos.

Syeikh Zallum tidak jatuh ke dalam jebakan ini. Beliau tahu bahwa sebelum umat bisa bergerak, umat harus berpikir. Dan sebelum umat bisa berpikir, umat harus memahami. Inilah mengapa beliau menghabiskan begitu banyak waktu untuk menulis, untuk merumuskan, untuk memastikan bahwa setiap argumen Hizbut Tahrir kokoh dan tidak bisa dibantah.

Tentang Prinsip yang Tidak Bisa Ditawar

Di saat banyak orang berkata “kompromi sedikit tidak apa-apa,” “yang penting tujuannya baik,” “nanti setelah berkuasa baru kita perbaiki” — beliau berdiri tegak dan berkata: “Tidak. Cara yang salah tidak akan menghasilkan tujuan yang benar. Manhaj Rasulullah ﷺ adalah satu-satunya jalan.”

Ini bukan sikap yang populer. Di saat orang-orang di sekitar beliau memilih jalan yang lebih mudah — ikut pemilu, bergabung dengan koalisi, menerima sistem yang ada — beliau tetap pada jalannya. Dan beliau tahu bahwa ini akan membuat beliau dikritik, diabaikan, bahkan dicemooh. Tetapi beliau juga tahu bahwa kebenaran tidak diukur dari popularitasnya.

Allah ﷻ berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am: 116)

Tentang Kesederhanaan yang Tulus

Beliau membuktikan bahwa seseorang bisa memimpin gerakan global tanpa kehilangan kerendahan hati. Bahwa jabatan bukan alasan untuk hidup mewah. Bahwa seorang yang memperjuangkan keadilan harus memulai dari keadilan dalam cara hidupnya sendiri.

Dan ini adalah pelajaran yang sangat relevan di zaman sekarang — zaman di mana banyak pemimpin gerakan Islam hidup dalam kemewahan yang kontras dengan pesan yang mereka sampaikan. Syeikh Zallum menunjukkan bahwa integritas bukan hanya tentang apa yang kita katakan di depan umum, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup di belakang pintu tertutup.

Tentang Visi yang Tidak Pernah Pudar

Selama 25 tahun memimpin, beliau tidak pernah kehilangan visi. Khilafah bukan sekadar slogan bagi beliau — ia adalah tujuan yang nyata, yang sedang dipersiapkan langkah demi langkah. Dan meskipun beliau tidak sempat melihat Khilafah tegak kembali, beliau tidak pernah meragukan bahwa ia akan tegak. Karena ini bukan soal optimisme buta. Ini soal keyakinan pada janji Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

“Kemudian akan ada Khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian.” (HR. Ahmad)

Hadits ini bukan ramalan yang bisa gagal. Ia adalah janji dari Rasulullah ﷺ — dan janji Rasulullah ﷺ pasti terjadi. Syeikh Zallum memahami ini dengan cara yang sangat mendalam. Dan pemahaman inilah yang membuat beliau tidak pernah putus asa, meskipun badai datang silih berganti.


10. Tiga Amir, Satu Perjuangan: Rantai Estafet yang Tidak Terputus

Syeikh Abdul Qadim Zallum adalah mata rantai kedua dalam rantai estafet kepemimpinan Hizbut Tahrir. Beliau menerima tongkat dari Syeikh Taqiuddin — sang pendiri yang merancang bangunan pemikiran — dan beliau memastikan bahwa bangunan itu tidak hanya berdiri, tetapi juga kokoh.

Beliau bukan sekadar “penjaga” yang mempertahankan apa yang sudah ada. Beliau adalah pengokoh yang menambahkan pilar-pilar baru — terutama di bidang ekonomi Islam — yang membuat bangunan itu semakin kuat. Dan ketika tiba saatnya untuk meneruskan tongkat itu, beliau memilih Syeikh Ata Abu Rashta — seorang yang membawa kombinasi unik antara pemikiran sistematis dan kedalaman syariah.

Tiga Amir. Tiga kepribadian yang berbeda. Tiga era yang berbeda. Tetapi satu pemikiran yang sama, satu metode yang sama, dan satu tujuan yang sama.

Inilah keajaiban yang dibangun oleh Syeikh Taqiuddin dan dijaga oleh Syeikh Zallum: sebuah gerakan yang tidak berubah arah meskipun berganti pemimpin. Karena yang memimpin bukan orang — yang memimpin adalah pemikiran. Dan pemikiran tidak mati ketika pemikirnya meninggal.


11. Penutup: Karang yang Tetap Berdiri

Syeikh Abdul Qadim Zallum adalah cermin nyata dari seorang ulama yang mampu menyatukan kelembutan hati dalam beribadah, kedalaman ilmu dalam berpikir, dan keberanian politik dalam menyampaikan kebenaran.

Beliau adalah pengokoh bangunan dakwah yang didirikan oleh Syeikh Taqiuddin. Tanpa beliau, mungkin Hizbut Tahrir tidak akan sekokoh sekarang — mungkin ia akan berubah arah di bawah tekanan, mungkin ia akan mengkompromikan prinsipnya, mungkin ia akan kehilangan identitasnya. Tetapi beliau menjaga bangunan itu tetap tegak, meskipun badai datang dari segala arah.

Beliau lahir saat umat kehilangan perisainya. Beliau hidup untuk mengembalikan perisai itu. Dan meskipun beliau tidak sempat melihat perisai itu terpasang kembali, beliau memastikan bahwa generasi setelahnya tahu persis di mana perisai itu berada dan bagaimana cara mengambilnya.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

Semoga Allah ﷻ merahmati Syeikh Abdul Qadim Zallum, menerima amal jihad beliau, dan mengumpulkan kita bersama beliau di surga-Nya. Aamiin.


Tujuan Berikutnya: