Hizbut Tahrir dan Tasawuf: Menjernihkan Makna Tazkiyatun Nafs
Sahabat pembaca yang budiman, di tengah ingar-bingar perdebatan politik dan diskursus pemikiran ideologis yang tak pernah reda, sering kali muncul sebuah kritik bernada simpatik sekaligus menuduh terhadap Hizbut Tahrir. Kritik itu berbunyi kurang lebih begini: “Hizbut Tahrir itu gerakannya terlalu rasional, kering, dan melulu bicara soal negara dan Khilafah. Mereka mengabaikan urusan hati, menolak ilmu tasawuf, dan melupakan pentingnya penyucian jiwa.” Tuduhan ini, jika didengar sepintas, seolah-olah memiliki kebenaran. Memang benar bahwa HT sangat vokal membicarakan urusan politik, ekonomi, dan sistem pemerintahan. Anda jarang melihat anggota HT mengadakan acara khalwat (mengasingkan diri) di gunung atau menggelar zikir akbar sambil menangis histeris di lapangan.
Namun, apakah benar HT “kering” keruhaniannya? Apakah benar HT menolak ilmu Tasawuf secara mutlak? Untuk menjawabnya, kita harus melepaskan diri dari stereotip yang dangkal. Kita harus membedah apa sebenarnya definisi “Tasawuf” yang dimaksud, dan bagaimana Hizbut Tahrir — melalui kitab Min Muqawwimat An-Nafsiyyah Al-Islamiyyah (Pilar-Pilar Pembentuk Nafsiyyah Islamiyyah) — merumuskan konsep spiritualitas yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Mari kita jernihkan kekeruhan ini dengan kepala dingin dan hati yang lapang.
1. Dua Wajah Tasawuf: Falsafi dan Akhlaqi
Akar dari kesalahpahaman ini, sahabat pembaca, bermula dari penggunaan kata “Tasawuf” itu sendiri. Dalam sejarah peradaban Islam, kata tasawuf adalah sebuah wadah yang diisi dengan berbagai macam aliran pemikiran yang sangat berbeda, bahkan saling bertentangan. Secara garis besar, para ulama membagi tasawuf menjadi dua aliran utama.
Aliran pertama adalah Tasawuf Falsafi (Tasawuf Filosofis). Ini adalah aliran tasawuf yang telah terkontaminasi oleh filsafat Yunani, Persia, dan Hindu. Tokoh-tokohnya — seperti Al-Hallaj atau Ibnu Arabi — sering kali mengeluarkan pernyataan-pernyataan (syathahat) yang membingungkan, seperti konsep Wahdatul Wujud (menyatunya Tuhan dengan makhluk), Hulul (Tuhan menitis ke dalam diri manusia), atau mengklaim mendapat wahyu langsung tanpa melalui syariat Nabi Muhammad ﷺ.
Aliran kedua adalah Tasawuf Akhlaqi atau Sunni, yang lebih tepat disebut sebagai Tazkiyatun Nafs. Ini adalah tasawuf yang murni bertujuan untuk membersihkan hati dari penyakit riya’, sombong, dan hasad, memperbanyak zikir, menangisi dosa, dan meningkatkan derajat takwa, namun tetap terikat kuat pada syariat (fiqih). Tokoh utamanya adalah ulama-ulama salaf yang lurus seperti Imam Al-Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani (dalam kitab-kitab aslinya), dan Imam Junaid Al-Baghdadi. Imam Junaid Al-Baghdadi berkata dengan sangat tegas: “Semua jalan (tarekat) tertutup bagi makhluk, kecuali jalan bagi orang yang mengikuti jejak Rasulullah ﷺ, mengikuti sunnahnya, dan menetapkan aturannya.”
Tabel 1: Dua Wajah Tasawuf
| Aspek | Tasawuf Falsafi | Tasawuf Akhlaqi (Tazkiyatun Nafs) |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Penyatuan eksistensi Tuhan dan makhluk. | Pembersihan hati dari penyakit moral. |
| Sikap terhadap Syariat | Sering mengabaikan syariat lahir (fiqih). | Tunduk mutlak pada syariat (Al-Qur’an dan Sunnah). |
| Kesesuaian Akidah | Menyimpang (membawa ide panteisme). | Lurus (Ahlussunnah wal Jama’ah). |
2. Mengapa HT Menolak Tasawuf Falsafi?
Sikap Hizbut Tahrir terhadap Tasawuf Falsafi sangatlah tegas dan tidak ada kompromi: HT menolaknya secara mutlak. Mengapa? Karena konsep-konsep seperti Wahdatul Wujud (Tuhan bersatu dengan alam) atau Hulul jelas-jelas bertentangan dengan Akidah Islam yang fundamental. Akidah Islam menetapkan batas yang sangat tegas (demarkasi) antara Al-Khaliq (Pencipta) dan Al-Makhluq (yang diciptakan). Keduanya tidak akan pernah bisa menyatu secara zat.
Allah ﷻ berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)
Selain itu, HT juga menolak pemahaman sekelompok ahli tasawuf yang membagi agama menjadi “Syariat” (kulit luar) dan “Hakikat” (inti dalam). Mereka mengklaim bahwa jika seseorang sudah mencapai derajat “Hakikat” atau Ma’rifat, maka kewajiban syariat — seperti shalat lima waktu — gugur darinya. Ini adalah kesesatan yang nyata, sahabat pembaca. Rasulullah ﷺ, manusia yang paling tinggi derajat ma’rifatnya kepada Allah, justru adalah orang yang paling banyak shalatnya hingga kaki beliau bengkak.
3. Tazkiyatun Nafs: Istilah Al-Qur’an yang Terlupakan
Lalu, bagaimana dengan Tasawuf Akhlaqi — upaya membersihkan hati, memperbanyak ibadah sunnah, dan mendekatkan diri kepada Allah? Dalam hal ini, Hizbut Tahrir sangat mendukung, mewajibkan, dan mempraktikkannya. Namun, HT lebih memilih menggunakan istilah yang langsung berasal dari Al-Qur’an, yaitu Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa) atau Bina’ an-Nafsiyyah (Pembentukan Pola Sikap).
Allah ﷻ bersumpah dengan sangat panjang dalam Surah Asy-Syams untuk menegaskan pentingnya penyucian jiwa:
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا . وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا . وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا . وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا . وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا . وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا . وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 1-10)
Perhatikan, sahabat pembaca, bahwa Allah ﷻ tidak bersumpah dengan sembarang hal. Beliau bersumpah dengan matahari, bulan, siang, malam, langit, dan bumi — semua demi menegaskan satu poin: bahwa penyucian jiwa adalah urusan yang sangat agung. Orang yang berhasil mensucikan jiwanya (zakkaha) akan meraih kemenangan (falah), dan orang yang mengotorinya (dassaha) akan merugi.
4. Kitab “Tasawuf” ala Hizbut Tahrir
Oleh karena itu, sahabat pembaca, HT menerbitkan sebuah kitab khusus berjudul Min Muqawwimat An-Nafsiyyah Al-Islamiyyah (Pilar-Pilar Pembentuk Nafsiyyah Islamiyyah). Kitab ini bisa disebut sebagai “kitab tasawuf” — dalam makna yang lurus — ala Hizbut Tahrir. Isi kitab ini sama sekali tidak membahas urusan politik atau negara. Isinya murni membahas tentang pentingnya keikhlasan niat, keutamaan shalat Tahajud, Dhuha, dan Rawatib, adab membaca Al-Qur’an dan memperbanyak zikir, sifat tawadhu’ (rendah hati), sabar, dan tawakkal, serta bahaya penyakit hati seperti riya’, ujub, dan takabur.
Setiap anggota HT (Syabab) diwajibkan untuk mengkaji kitab ini dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, tuduhan bahwa HT kering keruhaniannya adalah tuduhan dari orang yang tidak pernah membaca literatur pembinaan internal HT.
Analogi: Pohon yang Kokoh
Bayangkan seorang pejuang dakwah sebagai sebuah pohon yang besar dan kokoh. Akar pohon itu adalah Tazkiyatun Nafs — hubungan yang intim dan mendalam dengan Allah ﷻ. Batang dan dahannya adalah Aqliyyah (pola pikir) — pemahaman yang tajam tentang Islam sebagai solusi. Dan buahnya adalah amal nyata — perjuangan menegakkan Khilafah di muka bumi.
Jika akarnya kering dan dangkal, maka pohon itu akan tumbang tertiup angin pertama yang datang. Jika akarnya dalam dan kuat, maka pohon itu akan tetap tegak meskipun badai represif menerpa dari segala arah. Hizbut Tahrir memahami bahwa tanpa akar spiritualitas yang kuat, tidak mungkin ada buah perjuangan yang bertahan lama.
5. Syakhshiyyah Islamiyyah: Perpaduan Aqliyyah dan Nafsiyyah
Untuk memahami mengapa HT begitu menekankan aspek spiritualitas, kita perlu memahami konsep Syakhshiyyah Islamiyyah (Kepribadian Islam) yang menjadi fondasi pembinaan dalam Hizbut Tahrir. Syakhshiyyah Islamiyyah terdiri dari dua pilar yang tidak bisa dipisahkan: Aqliyyah (Pola Pikir) dan Nafsiyyah (Pola Sikap).
Aqliyyah adalah standar berpikir yang berbasis pada akidah Islam — cara seorang Muslim memandang dunia, menganalisis masalah, dan menilai segala sesuatu berdasarkan ukuran halal-haram. Nafsiyyah adalah standar sikap dan perilaku — bagaimana seorang Muslim merespons apa yang ia pikirkan, dengan dorongan (dafi’ah) yang berasal dari ketakwaan kepada Allah ﷻ.
Tanpa Aqliyyah, seorang Muslim akan bersemangat tetapi salah arah. Tanpa Nafsiyyah, seorang Muslim akan tahu kebenaran tetapi tidak punya dorongan untuk memperjuangkannya. Keduanya harus hadir bersamaan, seperti dua sayap burung yang harus mengepak bersama agar bisa terbang. Inilah yang HT bangun dalam setiap anggotanya melalui proses Tatsqif (pembinaan) yang berkesinambungan.
6. Spiritualitas yang Terjun ke Medan, Bukan Lari dari Dunia
Di sinilah letak perbedaan paling mencolok antara metode Tazkiyatun Nafs ala HT dengan metode sebagian tarekat tasawuf tradisional. Sebagian ahli tasawuf tradisional — terutama di masa kemunduran umat — mengajarkan bahwa untuk membersihkan hati, seseorang harus melakukan Uzlah (mengasingkan diri dari masyarakat), menjauhi urusan dunia, berdiam diri di gua atau sudut masjid, dan sama sekali tidak peduli pada urusan politik atau penderitaan umat. Mereka menganggap bahwa mengurus politik akan mengotori hati.
Hizbut Tahrir menolak cara pandang ini. Mengapa? Karena Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan spiritualitas yang lari dari kenyataan hidup. Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling suci hatinya, namun beliau tidak menghabiskan hidupnya dengan bertapa di Gua Hira’ selamanya. Setelah menerima wahyu, beliau turun ke masyarakat, berdebat dengan tokoh-tokoh Quraisy, memimpin pasukan di medan perang Badar, mengurus ekonomi pasar Madinah, dan mengirim surat diplomasi ke raja-raja dunia.
Bagi Hizbut Tahrir, spiritualitas (Ruhiyyah) bukanlah tindakan memisahkan diri dari dunia. Ruhiyyah adalah menyadari adanya hubungan (Idrak Shilah) dengan Allah ﷻ saat melakukan aktivitas apa pun di dunia ini. Saat seorang anggota HT melakukan demonstrasi menolak undang-undang yang zalim, ia melakukannya karena perintah Allah (Amar Ma’ruf). Itulah spiritualitas! Saat ia berdebat dengan penguasa, ia merasa Allah sedang mengawasinya, sehingga ia tidak takut dipenjara. Itulah tasawuf yang sesungguhnya! Saat ia membagikan selebaran dakwah di jalanan sambil dihina orang, ia bersabar karena mengharap ridha Allah. Itulah bentuk tertinggi dari Tazkiyatun Nafs.
Jadi, HT tidak memisahkan antara ibadah ritual (shalat, zikir) dengan ibadah politik (dakwah, mengoreksi penguasa). Keduanya adalah dua sayap burung yang harus mengepak bersamaan agar umat ini bisa terbang tinggi.
Tabel 2: Paradigma Spiritualitas (Ruhiyyah)
| Aspek | Pandangan Pertapaan / Uzlah | Pandangan Islam (Hizbut Tahrir) |
|---|---|---|
| Definisi Ruhiyyah | Mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia. | Menyadari pengawasan Allah (Idrak Shilah) dalam setiap amal. |
| Tempat Penyucian Jiwa | Hanya di dalam masjid atau padepokan. | Di masjid, di pasar, di parlemen, dan di medan dakwah. |
| Sikap terhadap Politik | Politik itu kotor, harus dijauhi agar hati bersih. | Politik (mengurus umat) adalah ibadah mulia jika sesuai syariat. |
| Teladan Utama | Para rahib atau petapa yang menjauhi manusia. | Rasulullah ﷺ dan para Khulafaur Rasyidin (Pemimpin sekaligus Ahli Ibadah). |
7. Bagaimana dengan Tarekat dan Zikir Berjamaah?
Sebagian masyarakat bertanya, sahabat pembaca, apakah boleh anggota HT ikut tarekat — seperti Naqsyabandiyah, Qadiriyah — atau ikut majelis zikir berjamaah? Jawabannya dikembalikan pada kaidah syara’ secara umum. Jika tarekat atau majelis zikir tersebut murni mengajarkan zikir yang ma’tsur (ada dalilnya dari Nabi ﷺ), tidak ada praktik kesyirikan, tidak ada bid’ah yang menyesatkan, dan tidak mengajarkan tasawuf falsafi, maka hukumnya mubah (boleh). Anggota HT bebas untuk mengikutinya sebagai amalan pribadi, selama tidak mengganggu kewajiban dakwahnya.
Namun, HT sebagai sebuah institusi partai politik tidak mengadopsi (tabanni) tarekat tertentu. HT tidak akan mewajibkan anggotanya untuk membaca wirid dengan jumlah tertentu — misalnya harus 10.000 kali — yang tidak ada dalil wajibnya dari syariat. HT membina anggotanya untuk berzikir secara mandiri, memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an setiap hari, dan menjaga shalat sunnah, tanpa harus terikat pada ritual tarekat tertentu yang bersifat tambahan.
8. Ruhiyyah HT: Bukan Sekadar Ritual, Tapi Bahan Bakar Perjuangan
Sahabat pembaca, perlu dipahami bahwa pembinaan ruhiyyah dalam Hizbut Tahrir bukan sekadar rutinitas ibadah yang bersifat mekanis. Ruhiyyah dalam HT adalah bahan bakar yang menggerakkan seluruh aktivitas dakwah. Tanpa ruhiyyah yang kuat, seorang aktivis dakwah akan mudah lelah, mudah putus asa, dan mudah tergoda oleh dunia.
Rasulullah ﷺ sendiri senantiasa membina ruhiyyah para Sahabat beliau. Di tengah persiapan perang yang sangat sibuk, beliau tidak pernah meninggalkan shalat malam. Di saat pengepungan yang mencekam, beliau tetap membaca Al-Qur’an dan berzikir kepada Allah. Para Sahabat meneladani beliau — dan hasilnya? Mereka menjadi generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi. Mereka adalah orang-orang yang di siang hari memimpin pasukan dan di malam hari menangis dalam sujud.
Inilah ruhiyyah yang HT bangun: bukan ruhiyyah yang pasif dan mundur dari dunia, melainkan ruhiyyah yang aktif dan mengubah dunia. Ruhiyyah yang membuat seorang dai tidak takut pada penjara, tidak tergoda oleh jabatan, dan tidak goyah oleh fitnah.
9. Pejuang di Siang Hari, Rahib di Malam Hari
Menuduh Hizbut Tahrir sebagai gerakan yang kering secara spiritual adalah sebuah kesalahan fatal dalam membaca karakter partai ini, sahabat pembaca. Hizbut Tahrir tidak menolak pembersihan jiwa; HT justru meletakkannya sebagai Pilar Nafsiyyah yang wajib dimiliki oleh setiap pengembannya. Tanpa kedekatan yang intim dengan Allah ﷻ, seorang pengemban dakwah akan mudah patah arang, mudah disuap oleh penguasa, atau tenggelam dalam kesombongan intelektual.
Karakter ideal seorang anggota Hizbut Tahrir (Syabab) adalah meniru karakter para Sahabat Nabi ﷺ: Fursanun fin-Nahar, Ruhbanun fil-Lail — Singa atau Ksatria penunggang kuda di siang hari, dan Rahib atau Ahli ibadah yang menangis di malam hari. Di siang hari, mereka lantang menyuarakan penerapan syariat, cerdas menganalisis konstelasi politik global, dan berani mengoreksi penguasa zalim. Namun di sepertiga malam terakhir, ketika manusia lain terlelap, mereka tersungkur sujud, menangisi dosa-dosa mereka, dan memohon pertolongan Allah ﷻ agar menurunkan kemenangan (Nusrah) bagi umat ini.
10. Penutup: Tasawuf Sejati yang Dicontohkan Rasulullah ﷺ
Sahabat pembaca yang budiman, inilah perpaduan sempurna antara ketajaman Aqliyyah (Pola Pikir) dan kelembutan Nafsiyyah (Pola Sikap). Inilah tasawuf sejati yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Bukan tasawuf yang lari dari dunia, melainkan tasawuf yang mengubah dunia dengan kekuatan spiritual yang tak tergoyahkan. Bukan tasawuf yang memisahkan syariat dari hakikat, melainkan tasawuf yang menjadikan syariat sebagai jalan menuju hakikat.
Hizbut Tahrir tidak menolak spiritualitas — HT justru menjadikannya sebagai salah satu dari dua pilar utama Syakhshiyyah Islamiyyah. Tuduhan bahwa HT “kering” keruhaniannya hanyalah cermin dari ketidaktahuan tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam pembinaan internal partai ini. Wallahu a’lam bish-shawab.
Lanjutkan Perjalanan Anda: