HT dan Kekerasan: Menyingkap Tabir Fitnah dan Mengungkap Metode Dakwah Rasulullah

Menengah faq-dan-klarifikasi
#Hizbut Tahrir #Metode Dakwah #Tanpa Kekerasan #Thariqah Siyasiyyah #At-Takattul Al-Hizbi #Mafahim #Tatsqif #Tafa'ul #Thalabun Nushrah #Klarifikasi Syubhat #Dakwah Rasulullah

Klarifikasi tuntas tentang metode perjuangan Hizbut Tahrir yang damai, mengikuti jejak Rasulullah ﷺ dalam berdakwah, perbedaan fundamental dengan kelompok bersenjata, dan mengapa tuduhan kekerasan hanyalah rekayasa politik untuk membungkam suara Islam.

HT dan Kekerasan: Menyingkap Tabir Fitnah dan Mengungkap Metode Dakwah Rasulullah

Sahabat pembaca yang budiman, jika Anda membuka koran hari ini atau menyalakan televisi, hampir pasti Anda akan menemukan satu narasi yang terus-menerus diulang: bahwa siapa pun yang menyerukan tegaknya Khilafah Islamiyah adalah teroris, bahwa siapa pun yang menginginkan penerapan Syariat Islam secara kaffah adalah ancaman keamanan, dan bahwa Hizbut Tahrir — sebuah partai yang selama lebih dari tujuh dekade tidak pernah mengangkat senjata — dituduh sebagai organisasi kekerasan.

Namun, cobalah sejenak menyingkirkan bisingnya propaganda media dan bertanya pada diri sendiri: apakah pernah ada satu pun bukti konkret — satu laporan kepolisian, satu putusan pengadilan, satu rekaman video — yang menunjukkan anggota Hizbut Tahrir terlibat dalam aksi bersenjata, pelatihan militer, atau serangan terhadap warga sipil? Jawabannya, dengan tegas dan jujur, adalah tidak pernah.

Lantas mengapa tuduhan ini terus beredar? Dan yang lebih penting, apa sebenarnya metode perjuangan Hizbut Tahrir yang sesungguhnya?

Melalui kacamata tsaqofah Islam, khususnya yang dirumuskan secara sistematis dalam kitab At-Takattul Al-Hizbi (Pembentukan Partai) karya pendiri HT, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, serta Mafahim Hizbut Tahrir (Konsep-Konsep Hizbut Tahrir), kita akan mengupas tuntas metode dakwah partai ini. Kita akan melihat bahwa HT tidak hanya menolak kekerasan — ia membangun seluruh identitas perjuangannya di atas metode pemikiran, politik, dan damai yang meneladani langkah-langkah Rasulullah ﷺ di Makkah.

Mari kita telusuri 10 kebenaran tentang metode Hizbut Tahrir yang sengaja disembunyikan oleh para penuduhnya.


1. Metode yang Didefinisikan dengan Jelas: Fikriyyah, Siyasiyyah, Silmiyyah

Sahabat pembaca, sebelum menilai sesuatu, hal yang paling mendasar adalah memahami definisinya. Dan Hizbut Tahrir, sejak hari pertama pendiriannya pada tahun 1953, telah mendefinisikan metodenya dengan tiga kata yang sangat jelas:

الطَّرِيقَةُ الْفِكْرِيَّةُ السِّيَاسِيَّةُ السِّلْمِيَّةُ

“Thariqah (metode) Hizbut Tahrir adalah metode yang bersifat fikriyyah (pemikiran), siyasiyyah (politik), dan silmiyyah (damai).”

Kata fikriyyah berarti bahwa senjata utama HT adalah pemikiran — bukan peluru, bukan bom, bukan pedang. HT meyakini bahwa perubahan yang hakiki dan berkelanjutan hanya bisa lahir dari perubahan cara berpikir umat. Ketika umat telah memahami Islam secara benar, ketika mereka telah menyadari bahwa Syariat Islam adalah solusi atas segala problematika kehidupan, maka tegaknya Khilafah akan menjadi konsekuensi alami dari kesadaran tersebut.

Kata siyasiyyah berarti bahwa HT tidak berdakwah dalam ruang hampa. Ia berinteraksi dengan realitas politik, mengkritik kebijakan penguasa yang zalim, menawarkan alternatif sistem Islam, dan bekerja untuk meraih kekuasaan — bukan melalui kudeta atau revolusi bersenjata, melainkan melalui jalan politik yang sah.

Kata silmiyyah adalah yang paling krusial. Ia berarti damai, tanpa kekerasan, tanpa senjata. Ini bukan sekadar klaim. Ini adalah prinsip yang tertanam dalam DNA Hizbut Tahrir sejak hari pertama.

Allah ﷻ berfirman, memerintahkan dakwah dengan cara yang mulia:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125)

Ayat ini bukan sekadar anjuran. Ia adalah fondasi metodologis yang menjadi pegangan HT dalam setiap langkah dakwahnya.


2. Analogi: Petani yang Menanam dengan Sabar

Untuk memahami mengapa Hizbut Tahrir memilih jalan dakwah damai alih-alih kekerasan, mari kita renungkan sebuah analogi.

Analogi: Petani dan Ladang yang Gersang

Bayangkan Anda memiliki sebidang tanah yang gersang dan tandus. Anda ingin mengubahnya menjadi taman yang subur dan indah. Ada dua cara yang bisa Anda tempuh.

Cara pertama adalah dengan kekerasan. Anda membakar semua tanaman liar yang ada. Anda meledakkan batu-batu besar dengan dinamit. Anda memaksa benih-benih masuk ke dalam tanah dengan mesin berat. Hasilnya? Tanah itu rusak, benih tidak tumbuh, dan yang tersisa hanyalah bau hangus dan kehancuran.

Cara kedua adalah dengan kesabaran. Anda mencangkul tanah perlahan-lahan. Anda menyiraminya dengan air secukupnya. Anda menabur benih dengan hati-hati. Anda merawatnya setiap hari dengan penuh dedikasi. Hasilnya? Tanah menjadi subur, benih tumbuh menjadi pohon yang rindang, dan taman itu menjadi tempat yang indah bagi siapa saja yang datang.

Hizbut Tahrir memilih cara kedua. Karena ia tahu bahwa perubahan pemikiran umat tidak bisa dipaksa dengan senjata. Ia harus ditumbuhkan — seperti seorang petani yang sabar menanti panen.

Dalam analogi ini, ladang yang gersang adalah masyarakat yang hidup dalam naungan pemikiran jahiliyah — baik itu kapitalisme, sekularisme, maupun nasionalisme. Benih yang ditabur adalah pemikiran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Cangkul dan air adalah dakwah lisan dan tulisan — ceramah, diskusi, buku, artikel, dan interaksi langsung dengan umat. Dan hasil akhirnya, insya Allah, adalah tegaknya Khilafah Islamiyah yang membawa rahmat bagi seluruh alam.


3. Meneladani Langkah Rasulullah ﷺ: Tiga Tahapan Dakwah

Sahabat pembaca, Hizbut Tahrir tidak menciptakan metodenya dari kekosongan. Metode ini diturunkan langsung dari cara Rasulullah ﷺ berdakwah — sebuah metode yang telah terbukti berhasil membangun peradaban terbesar dalam sejarah manusia.

Rasulullah ﷺ tidak langsung mengangkat senjata ketika memulai dakwah di Makkah. Beliau ﷺ melalui tiga tahapan yang sangat terstruktur, dan Hizbut Tahrir mengikuti ketiga tahapan ini dengan setia.

Tahapan pertama adalah Tatsqif — pembinaan. Pada fase ini, Rasulullah ﷺ membangun kader inti yang memahami Islam secara mendalam. Di Makkah, beliau ﷺ mendidik para sahabat satu per satu, di rumah Arqam bin Abil Arqam, membentuk pribadi-pribadi yang memiliki syakhshiyyah islamiyyah (kepribadian Islam) yang kokoh. Hizbut Tahrir melakukan hal yang sama: ia memulai dengan membentuk kader-kader yang memahami tsaqofah Islam secara komprehensif melalui kajian intensif dan halaqah-halaqah ilmiah.

Tahapan kedua adalah Tafa’ul — interaksi dengan umat. Setelah memiliki kader inti yang solid, Rasulullah ﷺ mulai berinteraksi dengan masyarakat Makkah secara luas. Beliau ﷺ menyampaikan dakwah di tempat-tempat publik, berdiskusi dengan para pemimpin kabilah, dan membantah syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh kaum Quraisy. Hizbut Tahrir pun demikian: ia mengadakan seminar, menerbitkan buku dan artikel, berdiskusi di media, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui dakwah dari pintu ke pintu.

Tahapan ketiga adalah Istilamul Hukmi — meraih kekuasaan. Di akhir periode Makkah, Rasulullah ﷺ melakukan thalabun nushrah — meminta dukungan dari para pemimpin kabilah di luar Makkah untuk melindungi dan menegakkan dakwah Islam. Beliau ﷺ mendatangi kabilah Aus dan Khazraj di Madinah, dan melalui bai’ah Aqabah, dakwah Islam akhirnya memiliki negara. Hizbut Tahrir mengikuti langkah ini: ia berinteraksi dengan para penguasa dan tokoh berpengaruh, menyampaikan pemikiran Islam, dan meminta nushrah (dukungan) untuk menegakkan Khilafah.

Allah ﷻ berfirman tentang metode dakwah yang berbasis ilmu dan bashirah:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (ilmu/pengetahuan yang jelas).’” (QS. Yusuf [12]: 108)

Perhatikan frasa “ala bashirah” — dengan ilmu, dengan pengetahuan yang jelas, dengan bukti yang nyata. Bukan dengan senjata. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan paksaan.


4. Pernyataan Resmi Hizbut Tahrir: Komitmen yang Tidak Bisa Digoyahkan

Sahabat pembaca, mungkin Anda bertanya: “Apakah komitmen tanpa kekerasan ini hanya slogan, atau benar-benar tertuang dalam dokumen resmi Hizbut Tahrir?”

Jawabannya ada dalam dokumen-dokumen resmi partai itu sendiri. Hizbut Tahrir secara eksplisit menyatakan bahwa ia adalah partai politik yang berideologi Islam dan bahwa ia tidak menggunakan kekerasan dalam metode perjuangannya. Partai ini berinteraksi dengan umat untuk menyampaikan pemikiran Islam dan bekerja untuk menerapkan Islam secara kaffah — seluruhnya melalui jalan damai.

Pernyataan ini bukan sekadar klaim kosong. Ia telah dibuktikan oleh fakta sejarah selama lebih dari 70 tahun. Sejak didirikan pada tahun 1953 oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani di Yerusalem, Hizbut Tahrir telah menyebar ke puluhan negara di Timur Tengah, Asia, Afrika, dan Eropa. Di setiap negara itu, metode yang digunakan tetap sama: dakwah lisan dan tulisan, interaksi politik yang damai, dan thalabun nushrah kepada penguasa.

Tidak pernah ada satu pun periode dalam sejarah 70 tahun HT di mana partai ini terlibat dalam aksi kekerasan. Tidak pernah ada pelatihan militer. Tidak pernah ada penyimpanan senjata. Tidak pernah ada serangan terhadap warga sipil atau infrastruktur pemerintah. Bahkan ketika HT dilarang, ketika aktivisnya dipenjara, ketika kantornya digeledah — partai ini tetap konsisten pada metode damai.

Ini bukan kebetulan. Ini adalah konsekuensi logis dari sebuah metode yang dibangun di atas fondasi silmiyyah — kedamaian.


5. Perbedaan Fundamental: Hizbut Tahrir Bukan ISIS, Bukan Al-Qaeda, Bukan Kelompok Bersenjata Apapun

Sahabat pembaca, salah satu fitnah terbesar yang dilontarkan kepada Hizbut Tahrir adalah menyamaratakannya dengan kelompok-kelompok bersenjata seperti ISIS, Al-Qaeda, atau Jemaah Islamiyah. Tuduhan ini bukan hanya keliru — ia adalah kebohongan yang sengaja diciptakan untuk mendiskreditkan dakwah Islam.

Mari kita lihat perbedaannya secara jujur dan objektif.

Hizbut Tahrir adalah partai politik yang berideologi Islam. Ia memiliki struktur organisasi yang jelas, metode dakwah yang terdefinisi, dan tujuan yang spesifik: menegakkan Khilafah Islamiyah melalui jalan damai. Ia tidak mengklaim diri sebagai negara. Ia tidak mengangkat senjata. Ia tidak menyerang warga sipil. Ia tidak melakukan pemboman. Ia tidak menculik. Ia tidak memenggal.

Kelompok-kelompok bersenjata seperti ISIS, di sisi lain, mengklaim diri sebagai “negara” yang ditegakkan melalui perang. Mereka menggunakan kekerasan sebagai metode utama. Mereka menyerang warga sipil — Muslim dan non-Muslim alike. Mereka melakukan pemboman, penculikan, dan eksekusi di depan kamera. Mereka mengklaim “jihad” tanpa memenuhi syarat-syarat syar’i yang telah ditetapkan oleh para ulama.

Perbedaan ini bukan sekadar perbedaan taktis. Ia adalah perbedaan fundamental dalam memahami Islam itu sendiri. Hizbut Tahrir meyakini bahwa jihad — dalam arti peperangan — hanya boleh dilakukan oleh negara (Khilafah) yang sah, dengan pemimpin yang sah, dan sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Syariat. Individu atau kelompok tidak berhak mendeklarasikan jihad sendiri. Ini adalah posisi yang telah disepakati oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah selama berabad-abad.

Tabel 1: Perbandingan Hizbut Tahrir dengan Kelompok Bersenjata

AspekHizbut TahrirKelompok Bersenjata (ISIS, Al-Qaeda, dll.)
MetodeDakwah pemikiran, politik, damaiSenjata, perang, teror
StatusPartai politikKelompok bersenjata ilegal
KlaimBerdakwah untuk KhilafahMengklaim diri sebagai “negara”
SipilDilindungi darah dan hartanyaMenjadi target serangan
JihadHanya oleh negara Khilafah yang sahDiklaim secara sepihak oleh kelompok
Sejarah70+ tahun tanpa kekerasanPuluhan aksi berdarah di seluruh dunia

6. Mengapa HT Terus-Menerus Dituduh Teroris?

Sahabat pembaca, jika Hizbut Tahrir benar-benar tidak menggunakan kekerasan, mengapa partai ini terus-menerus dituduh sebagai organisasi teroris? Mengapa ia dilarang di Rusia (2003), Mesir (2004), Indonesia (2017), Arab Saudi (2018), dan Pakistan (2020)?

Jawabannya tidak terletak pada apa yang HT lakukan, melainkan pada apa yang HT pikirkan dan suarakan.

Pertama, Hizbut Tahrir menyampaikan pemikiran Islam secara utuh — termasuk ide tentang Khilafah Islamiyah. Ide ini mengancam status quo penguasa-penguasa sekuler di dunia Muslim yang telah lama menikmati kekuasaan tanpa Syariat. Ketika HT mengkritik korupsi, ketidakadilan, dan ketergantungan negara-negara Muslim kepada Barat, penguasa-penguasa itu merasa terancam.

Kedua, tekanan dari negara-negara Barat — khususnya Amerika Serikat — memainkan peran besar. AS telah melabeli Hizbut Tahrir sebagai organisasi teroris, dan negara-negara Muslim yang bergantung pada bantuan militer dan ekonomi AS pun mengikuti. Ini bukan tentang keamanan. Ini tentang politik.

Ketiga, media mainstream sengaja menyamaratakan HT dengan ISIS dan kelompok bersenjata lainnya. Framing ini sangat efektif: ketika publik mendengar “Khilafah”, yang terbayang di pikiran mereka adalah gambar-gambar kekerasan dari ISIS. Padahal, keduanya sama sekali berbeda — seperti siang dan malam.

Keempat, tuduhan terorisme sering kali digunakan sebagai alat untuk mengalihkan isu. Ketika penguasa tertangkap korupsi atau gagal memenuhi kebutuhan rakyat, cara termudah untuk menyelamatkan diri adalah menciptakan “kambing hitam” — dan HT adalah target yang sempurna.

Kelima, dan yang paling menyakitkan, tuduhan ini digunakan untuk membungkam kritik. Hizbut Tahrir adalah salah satu organisasi yang paling vokal mengkritik kezaliman penguasa. Ketika kritik itu tidak bisa dibantah dengan argumen, maka cara yang dipilih adalah kriminalisasi.

Tabel 2: Pola Pelarangan Hizbut Tahrir di Berbagai Negara

TahunNegaraDalih yang DigunakanRealitas
2003RusiaEkstremismeHT hanya berdakwah damai
2004MesirTerorismeTidak ada bukti kekerasan
2017IndonesiaRadikalismeHT dilarang tanpa proses pengadilan
2018Arab SaudiTerorismeTekanan politik dari Barat
2020PakistanAnti-negaraHT hanya mengkritik kebijakan

Pola yang sama terulang di setiap negara: cap “teroris” atau “radikal”, larangan organisasi, penangkapan aktivis, dan penyitaan aset. Padahal, di balik semua itu, tidak ada satu pun bukti kekerasan yang bisa dihadirkan.


7. Dalil-Dalil tentang Metode Damai dalam Islam

Sahabat pembaca, metode damai yang dianut Hizbut Tahrir bukanlah inovasi modern. Ia berakar kuat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah — sumber hukum yang menjadi pegangan setiap Muslim.

Rasulullah ﷺ berdakwah di Makkah selama 13 tahun tanpa mengangkat senjata. Beliau ﷺ dihina, dilempari batu, diboikot, dan disiksa — namun beliau ﷺ tidak membalas dengan kekerasan. Ketika penduduk Thaif melempari beliau ﷺ hingga darah mengalir dari kedua kaki beliau, malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghancurkan kota itu. Namun Rasulullah ﷺ menolak dan justru mendoakan mereka:

اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Ya Allah, berilah petunjuk kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari no. 3477 dan Muslim no. 1795)

Ini adalah puncak dari metode damai. Bukan balas dendam. Bukan kekerasan. Tapi doa dan kesabaran.

Izin untuk berperang (jihad) baru turun setelah Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah dan membentuk negara. Allah ﷻ berfirman:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dizalimi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka.” (QS. Al-Hajj [22]: 39)

Perhatikan bahwa izin ini diberikan setelah ada negara di Madinah. Bukan sebelum itu. Bukan oleh individu atau kelompok yang bertindak sendiri.

Hizbut Tahrir, yang saat ini berada dalam fase dakwah (belum memiliki negara), mengikuti metode Makkah — metode yang damai, yang berbasis pada pemikiran, yang menolak kekerasan materi dalam segala bentuknya.


8. Sejarah 70 Tahun: Bukti Nyata yang Tidak Bisa Dibantah

Sahabat pembaca, teori tanpa bukti hanyalah omong kosong. Dan Hizbut Tahrir memiliki bukti yang sangat kuat: 70 tahun lebih sejarah tanpa kekerasan.

Sejak didirikan pada tahun 1953 di Yerusalem oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani — seorang ulama, hakim, dan pemikir besar — Hizbut Tahrir telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Yordania, Suriah, Mesir, Palestina, Tunisia, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Uzbekistan, Rusia, Inggris, Jerman, Australia, dan puluhan negara lainnya, HT telah membangun jaringan dakwah yang luas.

Di setiap negara itu, metodenya tetap sama: kajian ilmiah, diskusi publik, penerbitan buku dan artikel, interaksi politik dengan penguasa, dan thalabun nushrah. Tidak pernah ada penyimpangan dari metode ini.

Bahkan ketika HT menghadapi tekanan yang sangat berat — ketika aktivisnya disiksa di penjara-penjara Mesir di era Mubarak, ketika ratusan anggota HT dipenjara di Uzbekistan di era Karimov, ketika HT dilarang secara resmi di Indonesia pada tahun 2017 — partai ini tidak pernah membalas dengan kekerasan. Ia tetap pada jalannya: dakwah dengan hikmah dan mau’izhah hasanah.

Ini bukan sekadar janji. Ini adalah rekam jejak yang bisa diverifikasi oleh siapa saja.


9. Apa yang Hizbut Tahrir Lakukan — dan Apa yang Tidak

Sahabat pembaca, untuk menghilangkan keraguan yang mungkin masih tersisa, mari kita rangkum dengan jelas apa yang Hizbut Tahrir lakukan dan apa yang tidak.

Yang Hizbut Tahrir lakukan adalah: mengadakan kajian ilmiah dan halaqah untuk membina kader; menerbitkan buku, artikel, dan nasyrah (buletin) untuk menyebarkan pemikiran Islam; berdiskusi dan berdebat dengan siapa saja yang ingin memahami Islam; berinteraksi dengan umat melalui dakwah dari pintu ke pintu; mengkritik kebijakan penguasa yang zalim melalui jalur politik yang sah; dan meminta dukungan (nushrah) dari para tokoh dan penguasa untuk menegakkan Khilafah.

Yang Hizbut Tahrir tidak lakukan adalah: pelatihan militer dalam bentuk apapun; penyimpanan senjata atau amunisi; aksi kekerasan terhadap warga sipil atau infrastruktur pemerintah; teror, bom, atau serangan bersenjata; kudeta atau makar terhadap penguasa yang sah; dan klaim jihad tanpa otoritas negara Khilafah.

Perbedaan ini bukan sekadar perbedaan teknis. Ia adalah perbedaan antara dua cara memahami Islam yang sama sekali bertolak belakang. Hizbut Tahrir meyakini bahwa Islam adalah ideologi yang harus diperjuangkan melalui pemikiran dan politik — bukan melalui kekerasan dan teror.


10. Kesimpulan: Dakwah dengan Hikmah, Bukan dengan Senjata

Sahabat pembaca, setelah menelusuri 10 kebenaran tentang metode Hizbut Tahrir, mari kita simpulkan dengan jelas.

Hizbut Tahrir tidak menggunakan kekerasan dalam metode perjuangannya. Ini bukan klaim kosong — ini adalah fakta yang telah dibuktikan oleh lebih dari 70 tahun sejarah, oleh dokumen-dokumen resmi partai, dan oleh metode dakwah yang secara eksplisit didefinisikan sebagai fikriyyah, siyasiyyah, silmiyyah — pemikiran, politik, dan damai.

HT mengikuti metode Rasulullah ﷺ di Makkah: berdakwah dengan hikmah, dengan mau’izhah hasanah, dan dengan mujadalah billati hiya ahsan — bantahan dengan cara yang lebih baik. HT tidak mengangkat senjata. HT tidak melakukan kudeta. HT tidak menyerang siapa pun.

Tuduhan bahwa HT adalah organisasi teroris atau organisasi kekerasan adalah fitnah yang tidak memiliki dasar fakta. Tuduhan ini dilontarkan bukan karena apa yang HT lakukan, melainkan karena apa yang HT sampaikan: pemikiran Islam yang utuh, kritik terhadap kezaliman penguasa, dan seruan untuk menegakkan Khilafah Islamiyah.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang batil dan (janganlah) kamu sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 42)

Sahabat, kebenaran tidak perlu berteriak. Ia hanya perlu disampaikan dengan jelas dan jujur. Dan kebenaran tentang Hizbut Tahrir adalah ini: ia adalah partai yang memperjuangkan Islam dengan cara yang damai, dengan cara yang diridhai Allah ﷻ, dan dengan cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.


Lanjutkan Perjalanan Anda: